Skybee — Sejumlah mata uang di Asia-Pasifik dan pasar berkembang mengalami depresiasi signifikan terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang 2026. Tekanan ini terekam hingga pertengahan tahun, yang dikompilasi dari data berbagai sumber per Kamis, 25 Juni 2026.
Menurut laporan tersebut, faktor pendorong utama adalah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global—terutama ketegangan antara AS dan Iran—lonjakan harga komoditas, serta arus modal keluar yang masif dari pasar-pasar berkembang.
Mata Uang yang Tertekan Pada Pertengahan 2026
Beberapa mata uang mencatat pelemahan paling nyata selama periode ini.
India (Rupee – INR)
Rupee India terpantau melemah 7,04% sejak awal tahun (calendar year) hingga pertengahan 2026. Laporan menyebut adanya risiko penurunan berlanjut yang bisa mendekati level psikologis 100 rupee per dolar AS jika tren tidak berubah.
Indonesia (Rupiah – IDR)
Rupiah menghadapi tekanan dari keluarnya dana asing dan menurunnya kepercayaan investor eksternal. Memasuki pertengahan Juni 2026, nilai tukar spot tercatat menembus kisaran Rp 17.800–Rp 18.200 per dolar AS. Analisis NH Korindo Sekuritas Indonesia menyebut penurunan cadangan devisa dan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyak global sebagai faktor utama yang menekan rupiah.
Korea Selatan (Won – KRW)
Won menunjukkan koreksi tajam di kawasan Asia Timur, dengan pelemahan harian yang fluktuatif sekitar 0,33%–0,47% dalam beberapa sesi perdagangan pada Juni 2026. Pergerakan ini dipengaruhi oleh sentimen penghindaran risiko (risk-off) dari investor global.
Taiwan (Dolar Taiwan – TWD)
Dolar Taiwan juga melemah terhadap dolar AS pada pertengahan 2026. Volatilitas pasar keuangan Asia dan penyesuaian arus modal di sektor teknologi global menjadi faktor penekan.
Iran (Rial – IRR)
Rial tetap berada di level nominal terendah dunia. Selain sanksi ekonomi internasional yang berlanjut, akumulasi inflasi jangka panjang memperburuk kondisi. Di pasar tidak resmi, nilai tukar dilaporkan telah melampaui angka 1,1 juta rial per dolar AS.
Selain negara-negara di atas, situs CSUL Finance mencatat beberapa negara berkembang lain seperti Uzbekistan, Guinea, Paraguay, dan Uganda secara historis masih menempati posisi mata uang terlemah dunia, dipicu ketergantungan pada komoditas tertentu dan inflasi domestik yang tinggi.
Pendorong Tekanan Mata Uang
Kekuatan dolar AS menjadi salah satu pemicu utama depresiasi mata uang di pasar berkembang. Kebijakan suku bunga tinggi oleh bank sentral AS (The Fed) membuat aset-aset keuangan di AS lebih menarik sehingga mendorong arus modal kembali ke pasar tersebut.
Sementara itu, meletusnya konflik dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah pada awal 2026 mengganggu jalur logistik laut dan menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi. Imbasnya, harga minyak mentah dunia melonjak, yang memperberat beban impor bagi negara-negara pengimpor minyak seperti India dan Indonesia.
Gabungan antara membengkaknya biaya impor, penyusutan cadangan devisa akibat intervensi pasar, dan sentimen risk-off dari investor asing menjadi faktor yang memaksa beberapa mata uang kawasan Asia turun ke level terendah beberapa tahun terakhir.
Ikuti Skybee
