— Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis, 25 Juni 2026. Pada penutupan perdagangan sore, rupiah menguat 9 poin ke level Rp17.943 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.952.

Penguatan mata uang domestik itu terjadi di tengah meredanya sentimen geopolitik di Timur Tengah, demikian penjelasan pelaku pasar yang mengikuti perkembangan nilai tukar.

Meredanya Ketegangan Selat Hormuz

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa kesepakatan awal pekan lalu untuk mengakhiri konflik antara AS-Israel dan Iran membuka kembali lalu lintas di Selat Hormuz. Kondisi itu meredakan kekhawatiran pasokan yang sebelumnya mendorong lonjakan harga minyak.

Menurut pernyataan yang dikutip, aliran minyak terlihat meningkat setelah kesepakatan tersebut. Menteri Energi AS, Chris Wright, disebut mengatakan situasi di Selat Hormuz kini hampir kembali seperti sebelum perang, dengan sekitar 20 juta barel tercatat keluar dari selat dalam 24 jam terakhir.

Ibrahim menambahkan bahwa Wright menyatakan minyak akan terus mengalir melalui Selat Hormuz bahkan jika kesepakatan tidak berlaku penuh, dan Iran tidak akan dapat menutup selat itu lagi.

Pelemahan Harga Minyak dan Fokus Pasar Global

Meskipun harga minyak dunia turun tajam pekan ini seiring meredanya risiko pasokan, Ibrahim menilai penurunan harga belum sepenuhnya menghapus perhatian pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (Fed).

“Penurunan harga minyak belum meredam ekspektasi pasar terhadap kebijakan ketat Federal Reserve, karena bank sentral AS menunjukkan perpecahan di dewan dengan delapan dari 19 anggota memperkirakan kenaikan suku bunga menjelang akhir tahun 2026, sementara mayoritas memperkirakan suku bunga akan tetap stabil,”

Ia menambahkan bahwa fokus pasar hari ini tertuju pada beberapa data ekonomi AS yang dinilai penting, termasuk rilis Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE), angka Produk Domestik Bruto kuartal pertama 2026, serta klaim pengangguran mingguan.

Pergerakan rupiah ke depan diperkirakan masih dipengaruhi kombinasi sentimen geopolitik dan pembacaan data fundamental ekonomi global, kata Ibrahim.