— Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) menjadi kunci bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Rachmat menyatakan sejumlah persoalan mendasar—termasuk kemiskinan, ketimpangan, kelaparan, dan akses air bersih—harus dituntaskan dalam dua dekade ke depan agar kualitas pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat meningkat.

“Kalau kita tidak selesaikan persoalan hari ini, persoalan ketimpangan, kemiskinan, kelaparan, masalah air bersih, masalah-masalah yang lain yang sifatnya mencakup kebutuhan pokok, maka pencapaian target SDGs ke depan harus menjadi tonggak penting,” ujar Rachmat dalam SDGs Center Conference 2026 di Gedung Bappenas, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Ia menegaskan keluarnya Indonesia dari middle income trap merupakan syarat untuk mencapai status negara maju pada 2045, dan pencapaian target SDGs menjadi fondasi untuk memperkuat kualitas pertumbuhan sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

SDGs Lanjudan MDGs

Rachmat menjelaskan SDGs merupakan kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) yang fokus utamanya mengentaskan kemiskinan. Saat MDGs dijalankan, jumlah penduduk miskin dunia mencapai sekitar 850 juta orang.

“MDGs sebenarnya belum selesai. Kemudian dilanjutkan SDGs dengan 17 komponen dan salah satunya tetap saja ada hubungannya dengan bagaimana menurunkan jumlah orang miskin dan tentu saja yang berkaitan dengan lingkungan,” katanya.

Capaian Indonesia Dan Tantangan Ke Depan

Menurut Rachmat, capaian SDGs Indonesia saat ini mencapai 62,7%. Ia menyampaikan perbandingan bahwa rata-rata capaian global berada di bawah 20%, sehingga posisi Indonesia relatif lebih baik.

Meski demikian, Rachmat menilai persentase tersebut perlu ditingkatkan. Untuk itu, ia mendorong penguatan peran SDGs Center di perguruan tinggi sebagai pusat riset, inovasi, dan pengembangan solusi guna mendukung percepatan pembangunan berkelanjutan.

“Peran SDGs Center di universitas sangat perlu kita tingkatkan, supaya peran kita tidak berhenti di angka 60%, tetapi perlu ditingkatkan lagi,”

Bappenas bersama Indonesia SDGs Center Network menyelenggarakan SDGs Center Conference 2026 sebagai forum koordinasi dan konsolidasi nasional bagi SDGs Center serta perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Risiko Mundurnya Capaian Global

Rachmat mengingatkan tantangan pencapaian SDGs secara global masih besar. Mengutip Sustainable Development Goals Report 2025, hanya 18% target SDGs dunia yang berada di jalur pencapaian, sedangkan sebagian besar target lainnya tertinggal.

Di kawasan Asia Pasifik, estimasi terbaru memperlihatkan pencapaian target SDGs bisa mundur hingga puluhan tahun jika tidak diikuti langkah-langkah transformatif yang cepat dan terintegrasi. Oleh karena itu, kolaborasi pemangku kepentingan menjadi faktor krusial untuk mempercepat pencapaian target SDGs pada 2030.

Rachmat menekankan peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis pemerintah dalam meningkatkan kapasitas pemangku kepentingan, menghasilkan riset berdampak, serta mengembangkan inovasi yang mendukung pembangunan berkelanjutan.

“Kampus harus menjadi living laboratory untuk pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan, makin efisien secara energi, penggunaan air, dan makin ramah lingkungan,”