— Harga emas dunia anjlok ke level terendah lebih dari tujuh bulan pada perdagangan Rabu (24/6/2026) waktu setempat. Penguatan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed disebut menjadi pendorong utama tekanan terhadap logam mulia itu.

Emas spot ditutup turun 2,7% ke US$ 3.999,21 per ons troi setelah sempat menyentuh level terendah sejak November 2025. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS berakhir melemah 3,2% ke US$ 4.016,45 per ons troi.

Pelemahan logam mulia berlangsung seiring dolar AS yang menguat, sehingga membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Di waktu bersamaan, pasar semakin memperhitungkan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga tahun ini setelah sinyal kebijakan yang bersikap hawkish.

Ketegangan geopolitik, termasuk kekhawatiran terhadap tekanan inflasi akibat konflik di Iran, turut mendorong spekulasi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

“Pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada September. Kombinasi sikap hawkish The Fed, lonjakan dolar AS ke level tertinggi dalam 13 bulan, dan menurunnya ekspektasi inflasi memberikan tekanan besar terhadap logam mulia,” kata analis logam independen Tai Wong.

Meski harga tertekan, Wong menilai ruang penurunan lebih dalam terbatas. Ia menyebut terdapat area dukungan kuat di bawah US$ 3.900 per ons troi, selain masih adanya pembelian emas oleh bank sentral beberapa negara.

“Emas kemungkinan akan memasuki fase konsolidasi yang cukup panjang karena minat investor terhadap aset ini mulai berkurang,” ujarnya.

Secara historis, kenaikan suku bunga menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga. Sejak mencetak rekor tertinggi US$ 5.594,82 per ons troi pada akhir Januari 2026, harga emas telah terkoreksi lebih dari US$ 1.600 per ons troi.

Pangkas Proyeksi Harga Emas

Menanggapi tren pelemahan, analis ING memangkas proyeksi harga emas untuk paruh kedua tahun ini. ING kini memperkirakan rata-rata harga emas berada di kisaran US$ 4.300 per ons troi pada kuartal III-2026 dan US$ 4.600 per ons troi pada kuartal IV-2026.

Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya masing-masing US$ 4.850 per ons troi dan US$ 5.000 per ons troi.

Pelaku pasar menantikan data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang akan dirilis Kamis (25/6/2026). Data inflasi favorit The Fed tersebut dipandang dapat memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga selanjutnya.

Analis Senior FXTM Lukman Otunuga mengatakan sinyal hawkish tambahan dari pejabat The Fed atau data ekonomi yang mendukung kenaikan suku bunga berpotensi memperpanjang tekanan terhadap harga emas.

Logam Mulia Lainnya Melemah

Bukan hanya emas, logam mulia lain juga terpukul. Harga perak spot anjlok 6,75% menjadi US$ 57,43 per ons setelah sempat menyentuh level terendah sejak November 2025.

Platinum turun 4,21% ke US$ 1.585,2 per ons, sementara palladium jatuh 5,07% ke US$ 1.171,95 per ons.

Standard Chartered menilai perak tetap rentan terhadap volatilitas jangka pendek akibat arus keluar dana dari produk investasi berbasis exchange-traded products (ETP). Namun, kondisi pasokan yang terbatas diperkirakan dapat mendukung pemulihan harga dalam beberapa bulan mendatang.