— Presiden Joko Widodo menyatakan Indonesia kini berada dalam posisi yang lebih aman menghadapi potensi krisis pangan, termasuk ancaman kelaparan yang diperingatkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui FAO.

Keyakinan itu didasari kondisi swasembada pada komoditas utama seperti beras dan jagung, surplus produksi, serta jalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya mengurangi kelaparan.

“Dalam satu tahun delapan bulan ini, banyak yang kita capai, paling besar dan saya merasa bersyukur itu kita swasembada pangan. Kita produksi hampir semua komoditas pangan. Ini berkat kerja keras saudara-saudara (petani), ini prestasi tim yang menggerakkan pertanian RI,” kata Presiden saat membuka Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII 2026 di Gorontalo, Rabu (24/06/2026).

Presiden menambahkan, keberadaan swasembada membuat Indonesia lebih percaya diri menghadapi gangguan pasokan di tingkat global. “Karena kita swasembada pangan, kita percaya diri saat terjadi perang di mana-mana, kala Selat Hormuz ditutup, kita akan mampu mengatasi itu,” ujarnya.

Ancaman Kelaparan Global

Presiden merujuk peringatan FAO yang memperkirakan peningkatan jumlah orang kelaparan di dunia, dari sekitar 300 juta dua tahun lalu menjadi diperkirakan 700 juta pada tahun ini.

“PBB sudah meramalkan tahun ini kelaparan di dunia akan masif, dua tahun yang lalu sekitar 300 juta orang kelaparan di dunia, diperkirakan sekarang meningkat jadi 700 juta, FAO sudah memberi warning,” kata Presiden.

Program Dalam Negeri

Sebagai langkah domestik, pemerintah menjalankan program MBG. Presiden menegaskan urgensi program tersebut dengan menyoroti kondisi orang yang mengalami kelaparan.

“Ada orang-orang pintar bilang, ada lebih genting dari perut lapar, saya kira enggak ada lebih genting dari perut lapar, orang perut lapar itu kalau enggak segera diisi ya dia mati,” katanya.

Presiden juga menyebutkan bahwa Indonesia kini mampu mengekspor beras dan jagung, dengan catatan harga yang ditawarkan memastikan petani tidak dirugikan. “Bahkan sekarang kita sudah ekspor (pangan), negara lain minta beras dan jagung, silakan asal harganya baik, petani enggak rugi,” kata dia.

Stok Beras Besar

Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, melaporkan stok beras pemerintah di gudang Perum Bulog berada pada posisi 5,2-5,3 juta ton, yang menurutnya merupakan tingkat tertinggi sepanjang sejarah.

“Stok kita sampai detik ini, itu 5,2-5,3 juta ton, cukup baik dan tertinggi sepanjang sejarah. Insyaallah aman, katakanlah sampai Desember. (Bahkan) beras kita sudah sampai Mei pun cukup, tidak masalah,” ujar Andi Amran.

Proyeksi Neraca Pangan 2026 yang diperbarui awal Juni menunjukkan estimasi neraca akhir tahun beras RI 16,24 juta ton, berasal dari stok awal 12,54 juta ton ditambah proyeksi produksi 34,76 juta ton dikurangi kebutuhan konsumsi 31,1 juta ton.

Dengan neraca akhir tahun tersebut, stok masih diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi nasional sekitar lima bulan pada 2027.

Kesejahteraan Petani

Menteri Pertanian menyampaikan stok beras yang tinggi berkorelasi dengan peningkatan kesejahteraan petani. Ia menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 127, tertinggi dalam 34 tahun terakhir.

“NTP sebagai indikator kesejahteraan petani mencapai 127, tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian 5,74%, tertinggi di 25 tahun terakhir,” kata Andi Amran.

Menurut laporan yang dipaparkan, ekspor pertanian naik hingga Rp166 triliun sementara impor turun Rp41 triliun. Total manfaat ekonomi yang dinikmati petani diperkirakan mencapai Rp200 triliun.

Mentan juga menyampaikan apresiasi terhadap kebijakan yang memengaruhi kesejahteraan petani, termasuk penurunan harga pupuk sebesar 20% untuk pertama kalinya sejak kemerdekaan dan deregulasi distribusi pupuk agar lebih mudah diakses petani.

Presiden menegaskan komitmen untuk menjadikan petani dan nelayan sebagai garda terdepan dalam mencapai swasembada pangan berkelanjutan. “Kita swasembada pangan itu tidak ringan dan Indonesia baru sekali swasembada pangan, satu tahun di 1984. Kita yakin kita swasembada pangan tidak hanya untuk satu tahun tapi seterusnya kita akan swasembada pangan,” tutur Presiden.