Skybee — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan keras kepada pemilik kapal pada Kamis (25/6/2026). Iran menegaskan bahwa rute pelayaran baru di Selat Hormuz yang ditetapkan tanpa koordinasi dengan pihak berwenang Iran dianggap berbahaya dan tidak dapat diterima.
Pihak militer Iran memperingatkan akan mengambil tindakan tegas terhadap kapal-kapal yang mengabaikan instruksi tersebut. Pernyataan itu menegaskan tekad Iran untuk mempertahankan kendali atas jalur laut strategis itu, di tengah upaya membuka kembali lalu lintas energi yang sempat terkendala.
Isi Peringatan dan Aturan Koordinasi
Angkatan Laut IRGC menyatakan hanya rute yang ditentukan oleh Iran yang diizinkan untuk dilewati. Koordinasi dengan pasukan Iran melalui saluran komunikasi resmi hukumnya wajib bagi seluruh kapal.
“Navigasi di luar rute-rute resmi ini sangat berbahaya dan dilarang. Kami memperingatkan semua kapal untuk benar-benar menghindari pergerakan di luar koridor yang telah ditentukan,” bunyi pernyataan Angkatan Laut IRGC.
Reaksi Pasar dan Aktivitas Pelayaran
Peringatan ini muncul setelah sebuah kelompok informasi angkatan laut mengusulkan koridor pelayaran alternatif beberapa hari sebelumnya, yang merekomendasikan rute selatan melalui perairan teritorial Oman dan meminta kapal tetap mengaktifkan sinyal transponder.
Data dari penyedia pelacakan kapal menunjukkan adanya pemulihan awal aktivitas pelayaran. Jumlah kapal yang transit melonjak tiga kali lipat menjadi 93 kapal pada akhir pekan lalu dibandingkan periode yang sama sebelumnya, meskipun masih di bawah level sebelum konflik.
Pada hari Selasa tercatat 31 pelayaran yang terverifikasi oleh kapal komersial dan kapal pengangkut energi. Para operator kapal saat ini menggunakan kombinasi pola rute dari Iran, Oman, dan Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk melewati titik rawan tersebut.
“Para operator masih bergerak dengan sangat hati-hati daripada langsung kembali ke pola lalu lintas yang normal,” ujar pernyataan dari penyedia data lalu lintas laut.
Imbas Politik dan Risiko Pasokan Energi
Tensi politik tetap tinggi setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi pada Otoritas Selat Teluk Persia milik Iran pada Mei 2026, dengan tuduhan pemerasan terhadap perdagangan maritim global. Pemerintah AS memperingatkan tidak akan menoleransi sistem pungutan apa pun di Selat Hormuz.
Beberapa analis menilai kendali sepihak atas selat bisa berdampak jangka panjang pada arus pasokan minyak dunia. Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets, menyatakan bahwa lalu lintas kapal tanker minyak sebelum perang kemungkinan menjadi titik tertinggi yang sulit dicapai lagi dalam waktu dekat.
Signifikansi Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan salah satu chokepoint minyak paling strategis di dunia. Terletak antara Oman dan Iran, selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Lebar bagian tersempitnya sekitar 33 kilometer dan menjadi jalur utama distribusi energi global.
Diperkirakan hampir seperlima konsumsi minyak dunia melewati selat ini setiap hari, termasuk pasokan minyak mentah dari Arab Saudi, Irak, UEA, Kuwait, dan Iran. Selain minyak, selat juga menjadi rute utama pengapalan gas alam cair (LNG) dari Qatar. Karena peranannya, ketegangan di Selat Hormuz kerap memicu lonjakan harga minyak dan mengancam stabilitas rantai pasok energi global.
Ikuti Skybee
