Skybee — Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala delegasi perunding, Mohammad Bagher Ghalibaf, bertolak ke Oman untuk melanjutkan pembicaraan mengenai pengaturan dan pengelolaan Selat Hormuz, salah satu jalur maritim paling strategis di dunia.
Kunjungan itu dijadwalkan menyusul putaran negosiasi antara pejabat Iran dan Amerika Serikat di Bürgenstock, Swiss, yang melibatkan mediasi dari Qatar dan Pakistan. Perunding di Swiss menghadirkan delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance dan delegasi Iran yang dipimpin Ghalibaf.
Agenda Pertemuan dengan Sultan Oman
Melalui saluran resmi Telegram, Ghalibaf menyatakan bahwa agenda utama kunjungannya adalah pertemuan dengan Sultan Oman, Haitham bin Tarik. “Kunjungan ini akan membahas perkembangan kerja sama bilateral serta koordinasi bantuan teknis terkait pengaturan Iran dalam mengelola Selat Hormuz,” tulis pernyataan tersebut.
Langkah ini memperkuat pengumuman sebelumnya bahwa Iran tengah menyusun mekanisme pelayaran baru untuk Selat Hormuz bersama Oman. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang disebut turut mendampingi Ghalibaf, menyatakan kedua negara akan segera mengeluarkan pernyataan bersama terkait isu ini.
Hubungan Dengan Kesepakatan Sebelumnya
Kunjungan ke Oman merupakan kelanjutan dari kesepakatan yang dicapai beberapa hari sebelumnya. Pada 18 Juni, Iran dan AS menandatangani sebuah remote memorandum yang mengatur pengakhiran konflik militer yang meletus sejak 28 Februari 2026.
Dalam dokumen tersebut terdapat ketentuan waktu bagi AS untuk mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sebagai timbal balik, Iran diwajibkan memulihkan dan menjamin keamanan pelayaran komersial di kawasan Selat Hormuz.
Signifikansi Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi aliran minyak global, menghubungkan negara-negara produsen di Timur Tengah dengan pasar di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia dilaporkan melintasi selat tersebut setiap hari, sehingga stabilitas kawasan memberi dampak pada harga energi global.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah konflik yang pecah pada 28 Februari 2026, ketika AS menerapkan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran dan Iran membatasi pelayaran komersial. Rundingan di Swiss dan langkah diplomatik berikutnya ke Oman menandai upaya deeskalasi antara pihak-pihak terkait.
Peran Oman
Oman kembali mengambil peran mediasi dalam upaya meredam konflik dan memfasilitasi kerja sama regional. Negara itu disebut-sebut akan membantu menjembatani koordinasi teknis dan pernyataan bersama antara Iran dan pihak lain terkait pengelolaan Selat Hormuz.
Ikuti Skybee
