— Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Selasa (23/6/2026) seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Federal Reserve (The Fed).

Penguatan dollar juga didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan reli harga minyak mentah global, sementara beberapa mata uang utama lain menunjukkan pelemahan.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap berada di level tinggi, dengan tenor dua tahun—yang sensitif terhadap perubahan suku bunga—mendekati posisi tertinggi dalam 16 bulan terakhir. Kondisi ini merefleksikan antisipasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada paruh kedua tahun ini.

Pasar berjangka menilai peluang sekitar 75% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September 2026. Beberapa lembaga keuangan global telah menyesuaikan prediksi mereka, beralih dari ekspektasi stabil menjadi proyeksi kenaikan suku bunga tahun ini karena ketahanan ekonomi AS.

“Dolar AS mempertahankan kekuatannya seiring kenaikan imbal hasil obligasi dan spekulasi kebijakan hawkish The Fed,” kata pakar strategi valuta asing di OCBC Sim Moh Siong.

Yen Jepang Di Titik Nadir

Mata uang yen Jepang bergerak di kisaran 161,59 per dolar AS setelah sempat melemah ke 161,93. Jika menembus 161,96, yen akan mencapai level terlemah sejak 1986 atau dalam 40 tahun terakhir.

Merespons fluktuasi tajam itu, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menggelar pertemuan daring darurat dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent untuk membahas langkah kebijakan, termasuk potensi intervensi pasar secara langsung. Otoritas keuangan Jepang belum memberikan sinyal kapan intervensi akan dilakukan.

Kondisi Mata Uang Global Lainnya

  • Euro diperdagangkan pada US$ 1,1423, mendekati level terendah tiga bulan setelah pernyataan Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde yang meredam kekhawatiran pasar soal inflasi putaran kedua.
  • Poundsterling stabil di US$ 1,3246 setelah pengunduran diri Perdana Menteri Keir Starmer, yang dianggap pasar membuka jalan bagi transisi kekuasaan tertib.
  • Dolar Australia dan Selandia Baru masing-masing melemah tipis 0,1% ke posisi US$ 0,6991 dan US$ 0,5704.

Selain perbedaan kebijakan moneter antarnegara, pemulihan harga minyak turut menopang dolar. Harga minyak yang sempat terkoreksi karena harapan perundingan damai kemudian bangkit kembali saat pasar menunggu kepastian pemulihan arus pasokan lewat Selat Hormuz.

Perbedaan imbal hasil antara obligasi AS dan Jepang mendorong aliran modal ke dolar melalui mekanisme carry trade, yang menambah tekanan pelemahan terhadap yen. Kondisi ini memaksa pemerintah Jepang mempersiapkan langkah untuk menstabilkan nilai tukar demi menjaga daya beli domestik.