Skybee — Menteri Keuangan Korea Selatan Koo Yun-cheol menyatakan pelemahan nilai tukar won terhadap dolar AS saat ini sudah berada pada tingkat berlebihan. Pernyataan itu disampaikan dalam rapat kabinet yang dipimpin langsung oleh Presiden Lee Jae-myung pada Selasa (23/6/2026).
Posisi won kini berada di kisaran pertengahan 1.500 won per dolar AS, padahal menurut Koo kondisi fundamental ekonomi Korea Selatan masih kuat. Pemerintah mempertanyakan ketidaksesuaian antara pelemahan mata uang dan indikator ekonomi domestik.
Menjawab pertanyaan Presiden Lee, Koo mengatakan tekanan pada won terutama disebabkan oleh aksi ambil untung besar-besaran dari investor asing yang memegang saham lokal.
“Investor asing diperkirakan telah menjual sekitar 140 triliun won (setara US$ 91,21 miliar atau Rp 1.629,6 triliun) untuk melakukan penyeimbangan kembali portofolio mereka,”
Koo menyampaikan angka itu pada Selasa, namun ia tidak merinci periode waktu pasti dari aksi penjualan tersebut. Menurutnya, gelombang penjualan ini mengikuti reli tajam yang sempat terjadi di bursa saham Seoul.
Hasil penjualan sekuritas oleh investor asing kemudian dikonversi ke dolar AS, sehingga menimbulkan arus modal keluar yang besar. Tekanan ini diperparah oleh penguatan dolar AS secara global akibat kebijakan suku bunga ketat dari The Fed.
Pemerintah menyatakan tidak akan tinggal diam. Koo menuturkan regulator dan otoritas keuangan Korea Selatan berkomitmen mengambil langkah-langkah preventif untuk mencegah volatilitas atau guncangan mendadak di pasar keuangan domestik.
Secara garis besar, kondisi fundamental ekonomi negara sekutu AS ini dinilai prima, ditopang oleh kenaikan permintaan global pada sektor teknologi dan otomotif yang mendorong rekor surplus neraca berjalan. Namun, lonjakan harga saham yang terjadi justru dimanfaatkan investor asing untuk merealisasikan keuntungan dalam skala besar, yang kemudian memicu pelemahan won ke level psikologis sekitar 1.500 per dolar AS.
Ikuti Skybee
