— Pemerintah menyusun paket bantuan sosial untuk kelompok berpenghasilan rendah, khususnya desil 1–4, menyusul kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi seperti Pertamax. Langkah itu dimaksudkan untuk meredam dampak terhadap daya beli kelompok masyarakat paling rentan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah tetap mempertahankan subsidi untuk BBM jenis Pertalite dan program biodiesel 50 (B50), sekaligus menyiapkan dukungan tambahan untuk kelompok menengah bawah.

“Ya pertama kan BBM yang kita pertahankan kan jenis Pertalite dan B50. Terus kemudian kita siapkan yang untuk kelas menengah ke bawah, desil 4 ke bawah,” ujar Airlangga usai rapat di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (15/6/2026).

Airlangga menegaskan bentuk stimulus belum dirinci, tetapi penyalurannya akan difokuskan pada kelompok bawah, bukan kelas menengah. “Bukan yang di menengah tetapi yang di bawah,” katanya.

Harga Minyak Dunia dan Sikap Hati-hati Pemerintah

Pemerintah juga terus memantau perkembangan harga minyak global seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Airlangga menyampaikan bahwa kesepakatan yang dicapai antara negara-negara terkait dapat menekan harga minyak dunia.

Ia menyebutkan bahwa harga minyak Brent berada di level US$ 83,27 per barel, sementara WTI tercatat di US$ 80,52 per barel. Airlangga memprediksi harga minyak berpeluang turun ke kisaran US$ 83 per barel, namun pemerintah memilih bersikap konservatif sebelum menentukan langkah kebijakan energi berikutnya.

“Ya pertama tentu kita monitor karena harga minyaknya akan turun lagi ke sekitar US$ 83, tetapi kan semua ini baru selesai sudah ditandatangani. Jadi sebelum ditandatangani kita tetap konservatif,” ujar Airlangga.

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi

PT Pertamina menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Pertamax Green 95 meningkat dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter, dan Pertamax Turbo naik dari Rp 12.750 menjadi Rp 20.750 per liter.

Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengatakan pemerintah tengah merumuskan stimulus untuk mengurangi dampak kenaikan harga Pertamax terhadap daya beli masyarakat. Menurutnya, kenaikan harga BBM berpotensi mendorong inflasi karena memengaruhi biaya transportasi serta distribusi barang dan jasa.

“Pasti kalau kenaikan BBM biasanya selalu akan diikuti dengan kenaikan inflasi, pasti. Berapa persennya, nol sekian itu kita belum tahu,” kata Misbakhun kepada wartawan, Rabu (10/6/2026).

Misbakhun menambahkan bahwa pengguna Pertamax perlu mendapat perhatian karena sebagian berada dekat dengan segmen pengguna Pertalite, sehingga stimulus perlu disesuaikan dengan kebutuhan mereka.