— Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi tercapainya kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik antara AS dan Iran. Namun, rincian teknis, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz dan aspek jangka panjang dari gencatan senjata, masih belum jelas.

Kesepakatan itu akan memperpanjang gencatan senjata yang diumumkan pada April lalu selama 60 hari ke depan. Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu poin krusial karena jalur itu sempat diblokir Iran setelah serangan AS dan Israel pada Februari 2026.

Tahap Kedua dan Tantangan Diplomatik

Trump menyebut proses kini memasuki “tahap kedua” yang menurutnya lebih mudah. “Kami telah menyelesaikan kesepakatan dengan Iran, dan ini seharusnya berhasil,” ujarnya saat konferensi internasional, Selasa (16/6/2026).

Tahap selanjutnya direncanakan dimulai di Swiss pada Jumat (19/6/2026) dengan penandatanganan kerangka kerja. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dijadwalkan hadir bersama Wakil Presiden AS JD Vance untuk meresmikan langkah diplomatik tersebut.

Meski pembicaraan akan menyentuh masa depan program nuklir Iran, pengamat menyoroti bahwa isu penting lain—seperti dukungan Iran terhadap kelompok proksi bersenjata regional dan program rudal—tampaknya belum masuk agenda negosiasi.

Ketidakpastian Di Lapangan

Pelaku industri menyikapi kabar itu dengan hati-hati. Harga minyak tercatat turun hampir 5% setelah pengumuman, namun pelaku pengiriman menilai pemulihan penuh Selat Hormuz tidak akan terjadi segera.

Sumber keamanan maritim memperingatkan kemungkinan keberadaan ranjau laut di perairan sempit antara Iran dan Oman. Operasi pembersihan diperkirakan memerlukan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sebelum jalur tersebut dinyatakan aman bagi lalu lintas komersial.

Situasi di Lebanon juga menjadi penghalang. Meski Iran menuntut penghentian total permusuhan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pasukannya akan tetap berada di Lebanon selatan untuk merespons serangan milisi Hezbollah.

Trump sempat menyatakan ketidaksenangannya terhadap penanganan Israel di Lebanon, langkah yang menambah kompleksitas proses perdamaian.

Latar Belakang Konflik dan Dampak Global

Ketegangan memuncak pada Februari 2026 ketika AS bersama Israel melancarkan serangan militer ke wilayah Iran sebagai respons atas meningkatnya aktivitas milisi di kawasan. Konflik yang berlangsung 15 minggu ini menelan sedikitnya 7.000 jiwa, mayoritas di Iran dan Lebanon.

Perang juga merusak infrastruktur dan mengganggu pasar energi global. Selat Hormuz merupakan jalur transportasi bagi sekitar seperlima kebutuhan minyak dan LNG dunia, sehingga gangguan di sana berdampak luas terhadap pasokan dan harga energi.

Kesepakatan sementara saat ini dipandang sebagai upaya untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih dalam dan membantu menstabilkan ekonomi global yang terguncang akibat lonjakan harga energi selama periode perang.