Skybee — Pemerintah menggenjot penyerapan telur dan daging ayam melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya menahan penurunan harga di tingkat peternak. Langkah ini dimaksudkan untuk menjaga tingkat harga agar tetap menguntungkan peternak sekaligus memastikan keberlanjutan usaha sektor perunggasan.
Kepala Badan Pangan Nasional yang merangkap Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan penurunan harga tidak boleh dibiarkan berlangsung lama dan pemerintah harus hadir untuk menjaga Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen.
“Harga yang turun, tidak kalah pentingnya. Ini (peternak unggas) kesulitan. Telur turun drastis. Harga di peternak itu (bisa) Rp 18.000 sampai 20.000 per kilo. Kemudian ayam juga turun drastis,” ujar Amran.
Sebagai langkah jangka pendek, Amran menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk meningkatkan frekuensi penyajian telur dan ayam dalam program MBG. Saat ini konsumsi dalam program tersebut dijadwalkan sekali per minggu, dan pemerintah mendorong agar dapat ditingkatkan menjadi hingga tiga kali per minggu.
Data Pergerakan Harga Terakhir
Badan Pangan Nasional mencatat perbaikan harga ayam broiler di tingkat peternak per 15 Juni 2026. Harga rata-rata nasional tercatat Rp 22.107 per kilogram, naik 0,56% dari Rp 21.984 per kg sehari sebelumnya. Secara mingguan, kenaikan tercatat tipis sebesar 0,02%.
Provinsi dengan harga ayam broiler terendah di tingkat peternak adalah Sumatera Selatan sebesar Rp 18.438 per kg. Sebaliknya, harga tertinggi tercatat di Riau pada Rp 27.000 per kg, di atas HAP peternak yang ditetapkan Rp 25.000 per kg.
Untuk telur ayam ras, harga rata-rata nasional di tingkat peternak pada 15 Juni 2026 mencapai Rp 24.019 per kg. Sumatera Selatan kembali menjadi wilayah dengan harga terendah sebesar Rp 22.000 per kg, sedangkan Sulawesi Utara mencatat harga tertinggi Rp 28.000 per kg, lebih tinggi dari HAP peternak yang ditetapkan Rp 26.500 per kg.
Langkah Tambahan Untuk Tekan Biaya Produksi
Selain memperbesar penyerapan lewat MBG, pemerintah juga menjalankan Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan sejak 9 Mei 2026 untuk meredam biaya produksi peternak.
Badan Pangan Nasional mengalokasikan anggaran Rp 678 miliar tahun ini dengan target penyaluran 242 ribu ton jagung pakan hingga akhir 2026. Program menyasar lebih dari 5.000 peternak mikro, kecil, dan menengah di 26 provinsi, dengan total populasi unggas sekitar 53 juta ekor.
Realiasi penyaluran SPHP jagung pakan oleh Perum Bulog hingga 15 Juni 2026 mencapai 42,4 ribu ton atau sekitar 19,9% dari target sementara 213,2 ribu ton. Sisa pagu sebesar 28,8 ribu ton masih dalam proses bersama Kementerian Pertanian untuk memperluas jumlah peternak penerima manfaat.
Perubahan Harga di Tingkat Konsumen
Badan Pusat Statistik melaporkan tren penurunan harga telur ayam ras dan daging ayam ras di tingkat konsumen masih berlangsung. Hingga pekan kedua Juni 2026, indeks perkembangan harga (IPH) telur ayam ras turun di 198 kabupaten/kota, sementara IPH daging ayam ras turun di 182 kabupaten/kota.
Ikuti Skybee
