Skybee — Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali melemah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin, 29 Juni 2026. Pada penutupan Jumat (26/6/2026), rupiah justru menguat 21 poin ke Rp17.922 per dolar AS dari Rp17.943.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan mata uang domestik diperkirakan fluktuatif namun berakhir melemah pada rentang Rp17.920–Rp17.960 pada perdagangan Senin mendatang.
Proyeksi Pergerakan
Menurut Ibrahim, untuk sepekan ke depan rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.880 hingga Rp18.100.
Faktor Eksternal
Ibrahim menyebut pelemahan dipicu salah satunya oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Ia merujuk insiden sebuah kapal kargo yang terkena proyektil tak dikenal di dekat Oman, yang memicu badan pelayaran PBB menangguhkan skema evakuasi sukarela.
Di sisi lain, data ekonomi AS juga mempengaruhi pergerakan. Biro Analisis Ekonomi AS mencatat PCE inti naik menjadi 3,4% secara tahunan pada Mei 2026 dari 3,3% pada April.
CME FedWatch menunjukkan reaksi terhadap data PCE berupa sedikit penurunan taruhan kenaikan suku bunga The Fed tahun ini dan sedikit peningkatan kemungkinan bank sentral mempertahankan suku bunga.
Faktor Internal
Secara domestik, Ibrahim mencatat rupiah menguat setelah pasar merespons positif rencana pemerintah terkait efisiensi dan pengurangan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bank Indonesia disebut memperkuat intervensi pasar secara agresif melalui tiga lini utama: pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN), dengan tujuan meredam volatilitas dan mencegah depresiasi yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS.
“Disisi lain, Bank Indonesia (BI) memperkuat intervensi pasar secara agresif melalui tiga lini utama pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) guna meredam volatilitas dan mencegah depresiasi rupiah yang belakangan mendekati level Rp 18.000 per dolar AS,” ujar Ibrahim.
Ibrahim juga memperkirakan jika pelemahan rupiah berlanjut, langkah BI adalah menaikkan suku bunga acuan, meski bank sentral telah menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin dalam dua bulan terakhir.
Ikuti Skybee
