— Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un melontarkan kecaman keras terhadap Jepang, menyebut negara itu sebagai “negara perang” yang berusaha membangkitkan kembali kekuatan militernya. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato penutupan rapat pleno Partai Buruh Korea pada Senin waktu setempat.

Pernyataan Kim, menurut kantor berita resmi Korea Utara KCNA, menuduh pemerintah Jepang memanfaatkan situasi geopolitik global untuk mengubah citra dan haluan negaranya, termasuk melepaskan diri dari batasan internasional pasca-Perang Dunia II.

Serangan Terhadap Kebijakan Luar Negeri Jepang

Kim menyatakan langkah Jepang akan “memicu reaksi keras serta kekhawatiran yang sangat serius dari komunitas internasional.” KCNA mencatat ini merupakan kali pertama Kim menggunakan istilah seperti “menjadi kekuatan militer” dan “militerisme” secara langsung terhadap kebijakan Jepang.

Penyerangan Terhadap AS dan Korsel

Selain mengkritik Tokyo, Kim juga menuduh Amerika Serikat dan Korea Selatan sebagai pihak yang memperburuk ketegangan di Semenanjung Korea melalui modernisasi persenjataan, latihan militer gabungan skala besar, dan aktivitas spionase.

Ia menggunakan istilah “pasukan satelit” untuk merujuk pada posisi Jepang dan Korsel yang dinilainya mengikuti kebijakan AS.

Percepatan Program Pertahanan dan Nuklir

Menanggapi situasi yang ia sebut memanas, Kim memerintahkan percepatan pembangunan kemampuan pertahanan nasional Korea Utara dengan teknologi nuklir sebagai fondasi utama. Ia berjanji akan mengeksekusi rencana militer yang lebih luas dan inovatif dengan tempo lebih cepat.

Kim juga menegaskan doktrin utamanya untuk memperlakukan Korea Selatan sebagai negara yang paling bermusuhan tanpa kompromi.

Perombakan Internal Partai

Rapat pleno Partai Buruh Korea itu juga memutuskan pencopotan Kim Jae Ryong dari jabatan sebagai anggota Presidium Politbiro, sekretaris partai, dan direktur departemen. KCNA tidak merinci alasan di balik pencopotan mendadak mantan perdana menteri yang baru dipromosikan ke badan pengambil keputusan tertinggi pada Februari 2026.

Konstelasi Regional

KCNA menempatkan kecaman terhadap kebijakan Jepang dalam konteks perubahan doktrin keamanan Tokyo beberapa tahun terakhir, termasuk peningkatan anggaran pertahanan dan upaya mengembangkan kemampuan serangan balik. Menurut pernyataan tersebut, langkah Jepang dipicu oleh ancaman uji coba rudal balistik Korea Utara yang jatuh dekat perairan Jepang dan meningkatnya aktivitas militer China di Selat Taiwan.

Dalam pandangan yang disampaikan pada rapat pleno, modernisasi militer Jepang dipandang oleh Pyongyang dan sekutunya sebagai kebangkitan militerisme masa lalu. Pembentukan aliansi trilateral antara AS, Jepang, dan Korsel disebut makin membuat Korea Utara merasa terkepung, sehingga mendorong percepatan program senjata nuklir sebagai bagian dari upaya pertahanan.