— Pemerintah kembali mengajukan program penggantian tabung LPG 3 kilogram dengan kompor listrik rendah daya untuk tahun depan, dengan usulan alokasi anggaran sekitar Rp815 miliar dalam pagu APBN 2027. Program ini disiapkan dengan spesifikasi low watt agar dapat dioperasikan oleh pelanggan listrik bersubsidi.

Rencana tersebut mengambil pelajaran dari pelaksanaan sebelumnya yang kurang optimal karena kompor listrik membutuhkan daya tinggi, sehingga tidak dapat dinikmati pelanggan rumah tangga golongan 450 VA dan 900 VA.

Spesifikasi Produk dan Kelayakan Rumah Tangga

Ketua Umum Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES) Surya Darma menyatakan produk nasional telah memiliki dua model kompor listrik yang sesuai: induksi (induction) dan konvensional (hotplate/ceramic) dengan pengaturan daya rendah.

Namun, Surya mengingatkan kompor-kompor tersebut hanya layak digunakan oleh rumah tangga dengan daya minimum 900 VA. Menurutnya, rumah berdaya 900 VA memiliki kapasitas beban aman sekitar 720 Watt setelah memperhitungkan faktor daya 0,8.

“Jika Anda menggunakan kompor listrik pada pengaturan daya terendah atau menengah, misalnya 200 Watt hingga 400 Watt, maka kompor tersebut sangat kompatibel dan aman digunakan tanpa membuat sekring rumah turun [anjlok],” ujar Surya saat ditemui di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Surya menambahkan tantangan praktis lain adalah pengaturan beban serempak. Jika kompor menggunakan 400 Watt, tersisa sekitar 320 Watt untuk peralatan lain, sehingga tidak memungkinkan menyalakan sejumlah perangkat berdaya besar secara bersamaan, seperti pompa air, mesin cuci, pemanas air, atau bersamaan dengan tarikan awal AC/kulkas.

Perubahan Kebiasaan dan Peralatan Tambahan

Surya juga menekankan bahwa kebiasaan memasak dengan kompor listrik daya rendah berbeda dari kompor gas. Pada mode 200–300 Watt, energi panas yang disalurkan ke panci relatif kecil sehingga waktu untuk mendidihkan air atau memasak lebih lama dibanding pengoperasian pada daya optimal.

“Idealnya kompor induksi bekerja maksimal di atas 1.000–1.300 Watt,” kata Surya.

Dia mengingatkan program konversi massal tidak boleh membebani masyarakat, sehingga distribusi kompor harus disertai paket peralatan memasak yang kompatibel.

Produksi Dalam Negeri dan Evaluasi Program

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menyatakan kompor listrik yang akan didistribusikan merupakan produksi dalam negeri, bukan impor. Namun, Yuliot belum merinci jumlah unit yang akan dibagikan karena program masih dalam tahap evaluasi detail.

“Berapa unitnya ini kita dalami lagi. Ya karena itu kan juga kompor listrik, yang pertama ini kan kompornya, ya kemudian kan enggak bisa menggunakan panci biasa, ini kan juga harus satu paket. Ya kemudian untuk kabel yang digunakan kan nggak mungkin itu tinggal colok saja, itu kan ada penguatan instalasi yang ada di rumah,” ujar Yuliot.

Yuliot mengatakan program ini dimaksudkan sebagai substitusi LPG 3kg dan diharapkan dapat menekan anggaran subsidi tabung gas. Ia menambahkan kajian juga mencakup kemampuan daya rumah tangga sasaran sehingga spesifikasi kompor harus disesuaikan dengan pelanggan listrik subsidi.

Target Wilayah dan Pengelolaan Program

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyebut program kompor listrik akan diarahkan ke wilayah dengan pasokan listrik stabil atau daerah yang surplus daya. Prioritas wilayah belum diputuskan karena masih dibahas bersama PLN.

Eniya menjelaskan penempatan program ini berada di bawah Direktorat Jenderal EBTKE karena pendekatannya masuk ranah efisiensi energi dan konservasi. “Kompor ini mensubstitusi dan mengubahnya menjadi hal yang efisien,” ujarnya.