— Bank investasi DBS Group memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menyentuh level 8.000 sampai akhir 2026. Proyeksi itu sudah mempertimbangkan sejumlah risiko pasar termasuk pelemahan rupiah, ketidakpastian regulasi, dan risiko geopolitik.

Menurut DBS, target valuasi IHSG tersebut setara dengan rasio price-to-earnings (PER) sekitar 12,6 kali, atau satu standar deviasi di bawah rerata 10 tahun yang berada pada 15 kali.

“Bagi kami, risiko pelemahan sudah terkandung dalam valuasi saat ini. Kami kira pasar terlalu pesimistis terhadap IHSG, jika melihat hasil laba bersih emiten,” tulis DBS dalam riset yang dikutip Senin (22/6/2026).

DBS menilai stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi faktor kunci bagi penguatan indeks. Bank sentral yang menaikkan BI Rate dinilai memberi ruang bagi kestabilan rupiah, sehingga ketika mata uang domestik menguat, valuasi pasar ekuitas berpeluang terdongkrak.

Saham Pilihan dan Target Harga

Rumusan DBS menekankan bahwa kinerja keuangan emiten pada kuartal II-2026 akan bersifat krusial bagi arah pasar saham. Secara agregat, DBS memperkirakan laba bersih emiten BEI tumbuh 7,5% pada 2026.

Dalam pengamatan DBS, sektor perbankan dan pelaku komoditas menunjukkan performa kuat sepanjang 2026. Dengan valuasi saat ini, ruang penurunan harga saham dinilai terbatas, sementara hasil kinerja yang positif berpeluang memicu rerating valuasi.

DBS memilih saham berdasarkan visibilitas laba bersih yang kuat, neraca yang sehat, dan model bisnis defensif. Delapan saham yang masuk daftar rekomendasi buy hingga akhir 2026 beserta target harga masing-masing adalah:

  • AKRA — Rp1.600
  • ASII — Rp7.500
  • ADRO — Rp3.200
  • BBCA — Rp8.000
  • ISAT — Rp3.250
  • LSIP — Rp2.000
  • MYOR — Rp2.300
  • MEDC — Rp2.200