Skybee — Yamin (36) mengubah aktivitas berjualan cilok keliling menjadi usaha peternakan sapi yang berkembang di Kabupaten Garut. Bermodalkan tabungan Rp 46 juta dari hasil berdagang di Sumatra, ia pulang kampung pada 2016 dan membeli tiga ekor sapi sebagai modal awal.
Dalam kurun waktu hampir satu dekade, usaha yang dimulai sebagai hobi itu berkembang pesat. Saat ini sapi milik Yamin berjumlah 105 ekor dan dipasarkan ke sejumlah daerah di Jawa Barat.
Awal Usaha dan Strategi Pengembangan
Sebelum memutuskan beternak, Yamin merantau ke Pulau Sumatra selama tiga tahun untuk berjualan cilok keliling. Dari penghasilan tersebut, ia mengumpulkan tabungan yang kemudian digunakan membeli tiga ekor sapi.
“Dulu saya jualan cilok di Sumatra selama tiga tahun. Dari hasil nabung itu akhirnya pulang kampung dan coba beli tiga ekor sapi,”
Dua bulan setelah membeli ternak pertama, salah satu sapi terjual dan keuntungan dari penjualan itu diputar kembali untuk menambah jumlah hewan. Secara bertahap Yamin menambah koleksi sapi, termasuk pembelian tujuh ekor tambahan pada fase pengembangan berikutnya.
Tantangan Operasional
Pada tahap awal, Yamin mengandalkan perantara seperti bakul dan bandar untuk menjual sapinya karena belum memiliki akses pasar langsung. Model penjualan ini berubah seiring pertumbuhan usaha.
Perjalanan usaha tidak selalu mulus. Yamin pernah merugi ketika sapi yang dibeli dari luar daerah jatuh sakit setelah tiba di kandang dan beberapa harus dipotong karena tidak tertolong.
“Kadang sapi pas dibeli sehat, tapi sampai kandang malah sakit. Bahkan ada yang sampai dipotong karena tidak tertolong. Itu kerugiannya cukup besar,”
Pangsa Pasar dan Dampak Sosial
Sekarang, selain melayani kebutuhan lokal di Garut, Yamin memasok sapi ke sejumlah kota di Jawa Barat, termasuk Cianjur dan Bandung. Area pemasaran sapinya disebut mencakup Kopo, Buah Batu, Dago, dan Punclut.
Permintaan terhadap ternak meningkat terutama menjelang Hari Raya Iduladha. Pertumbuhan usaha juga membuka lapangan kerja; saat ini peternakan Yamin mempekerjakan lima karyawan tetap, dengan penambahan tenaga saat musim penjualan hewan kurban.
Perjalanan Yamin menunjukkan perubahan profesi yang berawal dari tabungan usaha kecil. Dari tiga ekor sapi pada 2016, ia berhasil mengembangkan pembiakan dan pemasaran hingga memiliki 105 ekor yang menopang keluarganya sekaligus menyerap tenaga kerja lokal.
Ikuti Skybee
