— Para pekebun kelapa sawit didorong menguasai teknik pemetaan lahan sekaligus menerapkan teknis budi daya yang benar agar usaha tani lebih efisien dan menguntungkan.

Pemetaan lahan mencakup pengetahuan luas areal tanam, batas kebun, kondisi tanaman, serta ketersediaan fasilitas pendukung. Dengan data tersebut, kegiatan budi daya bisa direncanakan lebih efektif sehingga biaya produksi tertekan dan hasil panen berpotensi optimal.

Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) Idum Satia Santi mengatakan peningkatan pendapatan petani harus dimulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). “Keberhasilan usaha tani sawit tidak hanya tergantung pada bibit unggul atau pupuk, tetapi sangat ditentukan kualitas manusianya atau petaninya,” ujar Idum.

Idum menegaskan investasi terbaik bagi pekebun bukan sekadar membeli sarana produksi, melainkan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. “Makanya, investasi terbaik bukan hanya membeli pupuk atau alat panen, tetapi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Ilmu yang diperoleh akan terus memberikan manfaat bagi kebun maupun keluarga,” kata dia.

Rangkaian Pelatihan Di Banjarbaru

Untuk mendorong penguasaan tersebut, AKPY bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menyelenggarakan pelatihan pada 27 Juni hingga 2 Juli 2026 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Kegiatan menghadirkan dua jenis pelatihan: Teknis Budi Daya Kelapa Sawit yang diikuti 84 peserta dalam tiga kelas, serta Teknik Pemetaan Kelapa Sawit yang diikuti 34 peserta dalam satu kelas. Peserta berasal dari pekebun sawit, penyuluh, dan aparatur sipil negara yang bekerja di bidang sawit.

Seluruh peserta dibekali keterampilan praktis agar mampu mengelola kebun secara lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026.

Fokus Pada Produktivitas Dan Kesejahteraan

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, Suparmi, menyebut sentra sawit Kalsel memiliki sekitar 509.000 hektare perkebunan dengan produksi 6,3 juta ton tandan buah segar (TBS) per tahun.

Menurut Suparmi, produktivitas perlu ditingkatkan agar kebutuhan bahan baku pabrik terpenuhi dan manfaat ekonomi kembali kepada pekebun. Pelatihan diharapkan mendorong lahirnya pekebun yang lebih profesional dan adaptif terhadap teknologi sehingga pendapatan meningkat secara berkelanjutan.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Tanah Bumbu, Agus Dwi Wahyono, menegaskan bahwa luas lahan saja tidak menjamin hasil tinggi. “Memiliki lahan yang luas saja tidak cukup. Petani juga harus memahami teknik budi daya yang benar agar hasil produksi bisa maksimal,” ujarnya.

Agus menambahkan pelatihan tidak boleh berhenti pada aspek budi daya; perlu dilanjutkan dengan peningkatan kemampuan panen, pascapanen, hingga pemetaan lahan karena seluruh materi tersebut saling berkaitan dalam meningkatkan produktivitas dan keuntungan usaha perkebunan.