— Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada Senin siang, 29 Juni 2026. Pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, tercatat rupiah naik 64 poin (0,36%) ke level Rp 17.858 per dolar AS.

Pagi harinya rupiah sempat dibuka menguat 54 poin (0,30%) ke level Rp 17.868 per dolar AS. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut ada tiga faktor internal yang mendukung penguatan rupiah hari ini.

Meski ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat di Timur Tengah, Ibrahim menilai sentimen domestik memegang peranan utama dalam pergerakan rupiah.

Faktor pertama, kata Ibrahim, adalah pemangkasan anggaran program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG), menjadi Rp 268 triliun untuk memperkuat kondisi keuangan negara. “Karena kita melihat bahwa devisit anggaran sudah di atas 2,68%,” ujarnya dalam keterangan, Senin (29/6/2026).

Faktor kedua berasal dari pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai rencana pemerintah merombak manajemen Badan Usaha Milik Negara (BUMN), termasuk memangkas jumlah BUMN menjadi 250 perusahaan. Menurut Ibrahim, langkah ini memperlihatkan keseriusan pemerintah dalam menangani devisit APBN.

Faktor ketiga yang disebutkan adalah keputusan pemerintah menolak pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar US$ 50 miliar atau setara Rp 537 triliun. “Pemerintah menolak (pinjaman) IMF ini juga merupakan sentimen positif bagi rupiah yang menguat cukup tajam,” kata Ibrahim.