Skybee — Nilai tukar rupiah menutup perdagangan Senin sore, 29 Juni 2026, dengan penguatan signifikan terhadap dolar AS. Pada penutupan, rupiah berada di level Rp 17.851 per dolar AS, naik 71 poin dibanding posisi sebelumnya di Rp 17.922 per dolar AS.
Penguatan ini muncul di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang memengaruhi aliran modal serta permintaan valuta asing di pasar spot.
Faktor Eksternal
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyatakan kondisi eksternal turut memengaruhi pergerakan rupiah. Meski ada ketidakpastian terkait kesepakatan damai antara AS dan Iran, pasokan yang membaik menekan harga minyak karena aliran melalui Selat Hormuz mendekati tingkat sebelum konflik pekan lalu.
“Namun, serangan yang kembali terjadi selama akhir pekan memicu kekhawatiran yang lebih tinggi tentang kerapuhan kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran,” ujar Ibrahim dalam keterangannya pada Senin (29/6/2026).
Selain itu, pernyataan hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve turut memengaruhi sentimen pasar. Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari memperkirakan adanya satu kenaikan suku bunga pada 2026, sementara Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee menyatakan inflasi inti masih terlalu tinggi dan cenderung ke arah yang salah.
Rupiah juga menguat setelah rilis data ekonomi AS yang menunjukkan Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan untuk Juni naik menjadi 49,5 dari 48,9, melampaui perkiraan dan angka Mei yang sebesar 44,8.
Pengaruh Domestik
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai keputusan pemerintah untuk tidak menerima bantuan dana USD 30 miliar dari Dana Moneter Internasional berkontribusi pada penguatan rupiah. Keputusan itu memberi sinyal tertentu kepada pelaku pasar mengenai kebijakan fiskal dan kebutuhan pembiayaan.
Sentimen penguat lain berasal dari penempatan dana pemerintah di Bank Indonesia ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sebesar Rp 281 triliun, yang sebagian dianggap mendukung stabilitas likuiditas dan nilai tukar.
Ikuti Skybee
