Skybee — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi mengumumkan nama calon pimpinan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk periode 2026–2030. Jeffrey Hendrik ditetapkan sebagai calon Direktur Utama dalam surat OJK Nomor SR-10/D.04/2026 tanggal 17 Juni 2026.
Pengumuman juga mencantumkan tujuh calon direksi lain yang akan melengkapi susunan manajemen BEI. Susunan tersebut baru berlaku efektif setelah mendapat persetujuan pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada 29 Juni 2026.
Susunan Calon Direksi
Selain Jeffrey Hendrik sebagai calon Direktur Utama, OJK menetapkan nama-nama berikut:
- Saidu Solihin — calon Direktur Penilaian Perusahaan
- Irvan Susandy — calon Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa
- Yulianto Aji Sadono — calon Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan
- Abdul Munim — calon Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko
- Iding Pardi — calon Direktur Pengembangan
- Umi Kulsum — calon Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia dan Umum
Harapan Pasar dan Tantangan
Pengumuman ini disikapi pelaku pasar sebagai lebih dari sekadar pergantian manajemen. Momen tersebut dipandang sebagai titik awal membangun kembali kepercayaan di tengah kondisi pasar modal yang menghadapi beragam tekanan.
Isu yang disebut menjadi tantangan antara lain volatilitas indeks, arus modal asing yang berfluktuasi, dan ketidakpastian arah suku bunga global—semua faktor yang mempersulit prediksi pergerakan pasar.
Respons Pelaku Pasar
Hendra Wardana, pendiri Republik Investor, menilai investor tidak menuntut pencapaian cepat pada indikator seperti Indeks Harga Saham Gabungan. Menurutnya, prioritas adalah pemulihan kepercayaan pasar.
“Kepemimpinan baru BEI memasuki masa kerja pada saat pasar modal menghadapi tantangan yang tidak ringan. Investor membutuhkan kepastian, stabilitas, dan keyakinan bahwa bursa dikelola secara profesional dan transparan,” ujar Hendra.
Hendra menambahkan bahwa kepercayaan merupakan aset penting di pasar modal dan bahwa investor mencari sinyal konkret menuju pasar yang lebih transparan, likuid, dan berintegritas.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengingatkan bahwa nama pemimpin bursa hanya salah satu dari faktor yang dilihat pasar. Faktor fundamental ekonomi nasional dan kepastian kebijakan pemerintah tetap menentukan.
“Figur memang akan dinilai oleh market, tetapi bukan faktor utama. Investor tetap akan melihat bagaimana kondisi fundamental perekonomian kita dan bagaimana tata kelola ekonomi dijalankan,” kata Yusuf.
Yusuf menekankan bahwa penguatan pasar modal memerlukan koordinasi antara BEI, OJK, pemerintah, dan pelaku industri agar reformasi dapat berjalan berkelanjutan.
Ikuti Skybee
