Skybee — Harga minyak dunia terpukul signifikan pada perdagangan Senin (22/6/2026) setelah Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan izin yang memungkinkan penjualan minyak mentah Iran hingga akhir Agustus.
Pengumuman itu memicu koreksi pasar: patokan Brent turun 3,3% ke US$77,90 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melemah 2,3% ke US$74,82 per barel.
Detail Izin dan Ruang Lingkupnya
Departemen Keuangan AS menerbitkan lisensi sementara selama 60 hari yang mengizinkan produksi, pengiriman, dan penjualan minyak Iran. Kebijakan tersebut juga membuka kemungkinan impor minyak mentah Iran ke AS dengan ketentuan pembayaran tetap dapat dilakukan dalam dolar AS.
Langkah ini mengikuti pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance bahwa pembicaraan damai dengan Iran di Swiss pada akhir pekan menunjukkan kemajuan berarti.
Perkembangan Negosiasi di Swiss
Mediator dari Qatar dan Pakistan sebelumnya menyebutkan bahwa AS dan Iran telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan akhir dalam 60 hari. Kedua pihak berencana melanjutkan pembicaraan teknis sepanjang pekan dan membentuk komite tingkat tinggi untuk mengawasi proses mediasi.
Pertemuan di resor Bürgenstock, Swiss, menjadi pertemuan lanjutan setelah penandatanganan nota kesepahaman pekan lalu yang bertujuan mengakhiri konflik dan memperpanjang gencatan senjata sementara selama 60 hari.
Kondisi Keamanan dan Isu Pelaksanaannya
Perjanjian itu mencakup rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian permusuhan di kawasan, termasuk di Lebanon. Namun Iran menegaskan bahwa fokus pembicaraan saat ini terbatas pada implementasi nota kesepahaman, bukan permasalahan lain seperti program nuklir.
Ketegangan tetap ada: Presiden AS Donald Trump sempat kembali mengancam kemungkinan aksi militer terhadap Iran, sementara Iran sempat menutup kembali Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak global—yang menambah dinamika di lapangan.
Respons Pasar dan Analisis
Analisis dari Quantum Strategy, yang disampaikan oleh David Roche, menilai bahwa pasokan minyak dari Timur Tengah saat ini mendekati level sebelum konflik jika dihitung bersama stok di tangki penyimpanan dan kapal tanker. Namun Roche mencatat kondisi tersebut lebih mencerminkan pelepasan persediaan, bukan pemulihan produksi, sehingga pasar tetap rentan jika stok menipis.
Di sisi lain, Goldman Sachs mengingatkan bahwa guncangan pasokan berkepanjangan di kawasan dapat mempercepat pergeseran ke kendaraan listrik. Menurut mereka, perubahan itu berpotensi menekan permintaan minyak dalam jangka panjang dan meningkatkan risiko penurunan harga.
Perkembangan izin penjualan minyak Iran dan kelanjutan negosiasi di Swiss menjadi faktor utama yang mendorong penurunan harga minyak pada sesi perdagangan tersebut.
Ikuti Skybee
