— Industri mebel Jepara mencatat arus investasi signifikan yang memperkuat posisi daerah sebagai pusat ukir dan furnitur kelas dunia. Hingga 2025, nilai investasi sektor furniture di Kabupaten Jepara tercatat melebihi Rp 1,17 triliun.

Pemerintah Kabupaten Jepara menilai aliran modal ini harus diimbangi upaya peningkatan mutu produk, inovasi desain, dan kesejahteraan pekerja. Untuk itu, Pemkab menggelar pelatihan inovasi ornamen ukir dan pemanfaatan limbah kayu, serta menyerahkan Kartu Mebel Jepara kepada pekerja sektor mebel pada Senin (22/6/2026).

Bupati Jepara Witiarso Utomo mengatakan investasi yang masuk perlu dimanfaatkan untuk mengembangkan kapasitas industri sekaligus menjaga kesejahteraan tenaga kerja.

“Saat ini, Jepara dikenal dunia sebagai the world carving center. Namun kita tidak boleh hanya mempertahankan reputasi itu, melainkan harus terus mengembangkannya agar mampu menjawab tantangan pasar global,”

Skala Industri dan Dampak Ekonomi

Data resmi menyebut sektor furniture di Jepara didukung 892 perusahaan dengan investasi total lebih dari Rp 1,17 triliun. Industri ini menyerap sedikitnya 8.259 tenaga kerja dan menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah.

Nilai ekspor juga menunjukkan daya saing produk Jepara. Pada 2025, ekspor furniture kayu Jepara mencapai sekitar US$197 juta atau setara Rp 3,29 triliun. Produk mebel dari daerah ini dipasarkan ke 114 negara dan menyumbang sekitar 34,5% dari total nilai ekspor Kabupaten Jepara.

Pelatihan dan Nilai Tambah Produk

Pemkab menekankan pentingnya inovasi produk berbasis ornamen ukir dan pemanfaatan limbah kayu untuk meningkatkan nilai tambah. Program pelatihan dirancang agar produk tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki identitas budaya dan mempertimbangkan aspek lingkungan.

Witiarso menegaskan pasar kini menuntut produk yang inovatif dan ramah lingkungan, selain mutu yang baik.

Program Dukungan Lokal

Dalam rangka memperkuat ekosistem industri, Pemkab Jepara menjalankan sejumlah program melalui visi Jepara Mulus. Program unggulan meliputi Festival Ukir Internasional, pengembangan Museum Ukir Nusantara, Pasar Mebel Jepara, program UMKM Naik Kelas, serta penerbitan Kartu Mebel Jepara.

Sampai saat ini, 850 Kartu Mebel Jepara telah disalurkan dari total 1.500 kartu yang disiapkan. Kartu tersebut berfungsi sebagai alat pendataan sekaligus memberikan perlindungan sosial bagi pekerja sektor mebel.

Menurut pemda, pemegang Kartu Mebel Jepara dipastikan memperoleh akses BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, dan jaminan hari tua. Selain itu, pemegang kartu diprioritaskan dalam akses bantuan pendidikan bagi keluarga pekerja, termasuk Program Indonesia Pintar dan program lain untuk kategori desil 1 dan 2.

Perluasan Kerja Sama Pendidikan

Pemkab juga memperluas kerja sama dengan perguruan tinggi seperti Universitas Diponegoro, Unissula, dan UIN untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor mebel dan ukir.

Witiarso menekankan ukuran keberhasilan industri tidak semata investasi dan ekspor, tetapi juga peningkatan kesejahteraan para pekerja yang menjadi tulang punggung setiap produk.

Dengan dukungan investasi lebih dari Rp 1,17 triliun, program pemberdayaan, dan fokus pada inovasi produk, Jepara diproyeksikan melanjutkan perannya sebagai salah satu pusat industri furnitur dan ukir terkemuka dunia.