Skybee — Tahun 2026 menjadi periode penuh tekanan bagi saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Sejak awal tahun, harga saham tercatat koreksi tajam hingga 22% year-to-date dan terjungkal 40,7% dari puncak harga tahun ini.
Penurunan harga sebagian besar disebabkan oleh melemahnya kepercayaan investor asing dan berbagai tantangan domestik. Meski demikian, analis menilai fundamental BBCA tetap kuat dan mendukung prospek jangka menengah.
Dalam riset yang dirilis Selasa (23/6/2026), Akhmad Nurcahyadi dari KB Valbury Sekuritas menyatakan, “Meski demikian, kami menilai fundamental BBCA tetap sangat kuat.”
BBCA disebut memiliki struktur neraca yang solid serta rekam jejak ketahanan kinerja. Laba bersih (bank only) BBCA pada periode Januari–Mei 2026 tercatat Rp 25,6 triliun, atau setara 42,7% dari proyeksi KB Valbury Sekuritas dan 41,7% dari konsensus pasar untuk 2026.
Realiasi laba tersebut berada di atas rata-rata lima tahun terakhir yang mencapai 38,4%, sehingga kinerja BBCA dinilai sesuai ekspektasi.
Prospek Margin dan Dampak Kenaikan BI Rate
Kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 100 basis poin sejak awal tahun, menjadi 5,75%, berpotensi mendorong repricing aset produktif mulai kuartal IV-2026. Perbankan umumnya membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan untuk mentransmisikan kenaikan suku bunga acuan ke kinerja, namun langkah proaktif BBCA dalam melakukan repricing kredit diperkirakan mempercepat peningkatan imbal hasil aset.
Dengan dukungan tersebut, target margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tahun ini sebesar 5,4–5,6% dinilai realistis. “Bahkan, ada peluang bagi BBCA untuk mencapai batas atas dari panduan tersebut,” kata Akhmad.
Harga Murah, Target Tinggi
KB Valbury Sekuritas menilai valuasi saham BBCA saat ini belum mencerminkan prospek fundamental perusahaan. Untuk menguji batas bawah valuasi, rumah analis melakukan simulasi menggunakan model Gordon Growth Model (GGM).
Dalam skenario sangat konservatif—dengan kenaikan tingkat imbal hasil bebas risiko 100 bps dan premi risiko ekuitas 240 bps—hasil simulasi menunjukkan nilai dasar sebesar Rp 6.860 per saham. Temuan ini dianggap masih memberikan ruang kenaikan yang menarik.
Berdasarkan valuasi GGM, KB Valbury mempertahankan rekomendasi buy untuk BBCA dengan target harga Rp 9.480 per saham, mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 55% dari level saat ini.
Target harga tersebut setara estimasi price to book value (P/B) 2026 sebesar 3,8 kali. Saat ini saham BBCA diperdagangkan pada P/B 2026 sekitar 2,5 kali, jauh di bawah rata-rata historisnya.
Selain itu, valuasi saham tercatat berada di bawah level minus dua standar deviasi (-2SD), yang menurut analis mengindikasikan bahwa harga relatif murah dibandingkan sejarah perdagangan BBCA.
Ikuti Skybee
