— Koordinator Gerakan Indonesia Cerah (GIC), Febri Wahyuni Sabran, memberi apresiasi terhadap langkah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang melakukan ziarah ke makam para tokoh bangsa pada Sabtu, 20 Juni 2026. Ziarah itu, menurut Febri, layak menjadi teladan bagi para pemimpin di Indonesia.

Febri menyatakan ziarah bukan semata kunjungan seremonial, melainkan wujud penghormatan sekaligus pembelajaran dari nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu bangsa.

“Belajar dari sejarah bukan hanya soal mengenal alur sejarah, tetapi bagaimana kita menghormati dan meneladani kebajikan-kebajikan yang mereka wariskan. Dan itulah yang dilakukan Kapolri Listyo Sigit Prabowo,” kata Febri di Jakarta, Senin (22/6/2026).

Menurut Febri, tindakan tersebut merupakan teladan positif yang seharusnya menjadi bagian integral karakter pemimpin sejati, bukan sekadar formalitas atau pencitraan.

“Gestur seperti itu penting untuk memperkuat koneksi emosional dan moral antara pemimpin masa kini dengan nilai-nilai perjuangan para pendahulu,” tambahnya.

Febri merinci beberapa pelajaran yang dapat diambil dari tokoh yang diziarahi. Dari Presiden Abdurrahman Wahid, menurutnya, dipetik nilai pluralisme, toleransi, dan kepemimpinan yang merakyat. Dari Presiden Soekarno, semangat nasionalisme, persatuan, dan visi kedaulatan bangsa. Sementara dari Presiden Soeharto, Febri menyebutkan pelajaran tentang stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

“Para tokoh bangsa tersebut telah berjuang untuk Indonesia yang lebih baik dan lebih cerah dengan caranya masing-masing,” ujarnya.

Sebelumnya, Kapolri Listyo Sigit menyatakan peziarahan itu bukan kunjungan seremonial biasa. Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari perjalanan batin untuk menggali dan meresapi teladan kepemimpinan dari para pendahulu yang berjasa membangun bangsa.

Setiap makam yang dikunjungi, menurut Kapolri, mewakili warisan nilai-nilai luhur yang patut dijunjung tinggi oleh setiap pemimpin di negeri ini.