Skybee — Iran membantah pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance yang menyebut Teheran akan mengizinkan kembalinya inspektur nuklir. Bantahan itu disampaikan Kementerian Luar Negeri Iran melalui media pemerintah setelah putaran awal pembicaraan AS–Iran di Swiss.
Pernyataan Vance muncul usai perundingan di Bürgenstock, Swiss, di mana ia menyatakan diskusi dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) “bisa saja terjadi secepatnya hari ini”. Namun Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan negara tersebut tidak membuat komitmen baru terkait inspeksi nuklir.
Peta Jalan 60 Hari dan Pelonggaran Sanksi
Mediator dari Qatar dan Pakistan menyebut otoritas AS dan Iran telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari. Vance menilai perundingan itu menempatkan fondasi yang sangat baik, termasuk pembahasan pembukaan kembali Selat Hormuz dan deeskalasi konflik untuk mendorong gencatan senjata regional.
Sebagai bagian dari proses, Departemen Keuangan AS mengeluarkan pelonggaran sanksi darurat selama 60 hari yang berlaku hingga 21 Agustus 2026. Langkah itu membuka kembali akses penjualan minyak Iran menggunakan dolar AS, serta memungkinkan produksi, penjualan, pembelian, dan impor minyak mentah dan produk petrokimia Iran, menurut pernyataan resmi.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan imbalan dari pelonggaran sanksi 60 hari adalah komitmen Iran untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan mengizinkan inspektur IAEA kembali masuk. Presiden AS Donald Trump menegaskan secara langsung, “Jika Iran tidak memenuhi kesepakatan mereka, atau jika mereka tidak berperilaku baik, saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan.”
Iran Tegaskan Prosedur Hukum
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqai mengatakan setiap interaksi dengan inspektur PBB harus berjalan sesuai prosedur yang telah ditetapkan oleh Parlemen dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Pernyataan itu disampaikan saat wawancara dengan kantor berita resmi Iran. Hingga saat ini IAEA belum memberikan komentar resmi.
Sebelumnya, Iran sempat membekukan akses IAEA ke situs-situs yang dibom selama perang 12 hari musim panas lalu. Sebulan kemudian, IAEA menarik seluruh inspektur yang tersisa dari Iran.
Ketegangan Negosiasi dan Jalur Komunikasi
Perundingan di Swiss sempat memanas setelah pernyataan Presiden Trump di platform media sosial yang menurut Vance sempat mendorong ancaman walkout oleh delegasi Iran. Vance mengatakan ia berhasil meyakinkan negosiator Iran bahwa pernyataan itu sebatas respons terhadap provokasi verbal.
Negosiator utama Iran dilaporkan telah meninggalkan lokasi perundingan, sementara diskusi teknis antar-pihak terus berjalan. Mediator juga menyebut kedua negara membentuk jalur komunikasi khusus untuk mencegah insiden di Selat Hormuz dan membentuk sel dekonflik antara AS, Iran, dan Lebanon guna menghentikan operasi militer di Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyatakan ujian nyata pertama dari kesepakatan ini adalah situasi di Lebanon. Menurut pernyataan mediator, pertempuran antara Israel dan Hizbullah di Lebanon mulai mereda sejak Sabtu malam dan gencatan senjata rapuh masih bertahan.
Jejak Konflik Nuklir
Konflik antara AS dan Iran terkait program nuklir berlangsung lebih dari dua dekade. Pada 2015, Iran menandatangani Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang mengatur pembatasan program nuklir dan inspeksi IAEA dengan imbalan pencabutan sanksi.
Pada 2018, Presiden Donald Trump menarik AS dari JCPOA dan menerapkan kebijakan “maximum pressure” dengan menjatuhkan sanksi ekonomi dan embargo minyak, yang kemudian dibalas Iran dengan secara bertahap melanggar pembatasan nuklir yang disepakati. Putaran negosiasi di Swiss ini merupakan upaya terbaru untuk meredam eskalasi militer yang lebih luas di kawasan.
Ikuti Skybee
