Skybee — Indeks-indeks saham di Wall Street bergerak beragam pada perdagangan Selasa (16/6/2026) waktu AS. Meski banyak indeks melemah, Dow Jones Industrial Average justru menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa.
Dow Jones ditutup naik 328,64 poin (0,64%) ke level 51.999,67 setelah sempat menyentuh intraday ATH di 52.190,29. Sementara itu, S&P 500 turun 0,57% ke 7.511,35 dan Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melemah 1,15% menjadi 26.376,34.
Tekanan di Sektor Teknologi
Penurunan Nasdaq dipicu aksi jual pada saham-saham semikonduktor. Saham Advanced Micro Devices turun lebih dari 7%, Broadcom melemah sekitar 4%, Micron Technology ambles 6%, dan Nvidia terkoreksi lebih dari 2%.
Harga Minyak Anjlok
Sentimen pasar dipengaruhi oleh koreksi tajam harga minyak dunia. Minyak Brent turun 5,06% ke US$ 78,96 per barel, sedangkan West Texas Intermediate merosot 5,82% ke US$ 76,05 per barel. Kedua kontrak itu menutup perdagangan di bawah US$ 80 per barel untuk pertama kalinya sejak awal Maret.
Penurunan harga energi mendorong penguatan saham-saham siklikal yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi. Saham Caterpillar memimpin kenaikan sektor industri dengan penguatan lebih dari 1%, dan JPMorgan Chase naik lebih dari 3%.
Dampak Politik Internasional
Optimisme pasar meningkat setelah pengumuman terkait berakhirnya konflik antara AS dan Iran. Presiden AS menyatakan tercapai kesepakatan penghentian operasi militer, dengan penandatanganan perjanjian dijadwalkan di Swiss pada Jumat pekan ini. Pernyataan itu disertai klaim bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka pada Jumat (19/6/2026) dan tetap bebas biaya melampaui periode awal 60 hari.
Kabar tersebut langsung menekan harga minyak dan turut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap prospek ekonomi global.
Sorotan Saham SpaceX
Saham SpaceX kembali mencuri perhatian setelah melonjak hampir 5% dan ditutup di US$ 201,80 per saham, memperpanjang reli sejak penawaran umum perdana pekan lalu dengan harga IPO US$ 135 per saham. Pada perdagangan intraday, kapitalisasi pasar perusahaan sempat melampaui Microsoft dan Amazon sebelum lalu ditutup sedikit di bawah keduanya.
Peringatan Terhadap Risiko Inflasi
Meski harga minyak turun, beberapa pelaku pasar memperingatkan risiko inflasi masih ada. Chief Investment Strategist Nomura Asset Management International Andy Goldberg mengatakan, “Jika harga minyak turun terlalu cepat, inflasi utama memang akan melambat. Namun pada saat yang sama, konsumen akan memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan, dan hal itu justru bisa memicu tekanan inflasi baru.”
Goldberg menambahkan bahwa Ketua The Fed Kevin Warsh kini menghadapi tantangan besar untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi di tengah perubahan kondisi pasar.
Ikuti Skybee
