— Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kembali menguat pada penutupan perdagangan Senin (22/6/2026), menambah reli dua hari sebelumnya. Penguatan ini terjadi di tengah sentimen positif pasar minyak nabati global serta pelemahan Ringgit Malaysia.

Berdasarkan data BMD, sejumlah kontrak berjangka mencatat kenaikan signifikan pada penutupan hari itu. Kontrak Juli 2026 naik 16 Ringgit Malaysia menjadi 4.610 Ringgit per ton, Agustus 2026 naik 19 Ringgit menjadi 4.641 Ringgit per ton, dan September 2026 bertambah 26 Ringgit menjadi 4.672 Ringgit per ton.

Kontrak Oktober 2026 meningkat 33 Ringgit menjadi 4.701 Ringgit per ton, November 2026 melonjak 40 Ringgit menjadi 4.729 Ringgit per ton, dan Desember 2026 terkerek 44 Ringgit menjadi 4.754 Ringgit per ton.

Selama sesi perdagangan, harga sempat menyentuh 4.703 Ringgit per ton, level tertinggi sejak 6 Mei, sebelum memangkas sebagian kenaikan menjelang penutupan, menurut data Tradingview.

Faktor Penguatan

Seorang trader di Kuala Lumpur mengaitkan penguatan dengan pelemahan ringgit serta kenaikan harga minyak kedelai di Chicago. “Palm naik karena ringgit melemah dan minyak kedelai Chicago menguat, tetapi tertahan oleh turunnya harga minyak mentah,” katanya.

Di pasar global, minyak kedelai di Chicago Board of Trade tercatat naik 0,89%, sementara kontrak minyak sawit di Bursa Dalian menguat 0,45%. Meski demikian, kontrak minyak kedelai yang paling aktif justru turun tipis 0,07%.

Pengaruh Mata Uang dan Ekspor

Dari sisi mata uang, ringgit melemah sekitar 0,29% terhadap dolar AS, kondisi yang membuat komoditas berbasis Ringgit relatif lebih murah bagi pembeli asing.

Selain itu, data pengiriman turut menopang sentimen. Pengiriman produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1–20 Juni tercatat naik antara 19,1% hingga 25% secara bulanan, menurut data dua lembaga inspeksi kargo.

Pembatas Kenaikan

Kenaikan harga CPO tidak lepas dari tekanan penurunan harga minyak mentah Brent yang turun sekitar 2% setelah pembicaraan AS–Iran di Swiss mengirimkan sinyal pelonggaran ekspor minyak Iran. Penurunan minyak mentah tersebut menekan daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel di pasar energi global.