Skybee — Empat bank terbesar di Indonesia berhasil membukukan laba bersih konsolidasi Rp78,47 triliun secara bank only hingga Mei 2026, naik 9,12% secara tahunan. Meski profit tumbuh, keempat bank tersebut memilih memperbesar cadangan untuk menutup potensi risiko di tengah kondisi yang belum stabil.
Keputusan menambah pencadangan muncul di saat pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tetap menunjukkan kinerja positif di era suku bunga tinggi, namun dinamika biaya dana dan risiko nilai tukar memaksa pendekatan kehati-hatian.
Perolehan Laba Per Bank
Secara rinci, per Mei 2026 PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat laba bersih Rp25,68 triliun, naik 2,07% (yoy) — pertumbuhan terendah di antara bank besar. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk meraih laba bersih Rp23,32 triliun, tumbuh 18,68% (yoy), tertinggi secara persentase.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk membukukan laba bersih Rp20,42 triliun, meningkat 9,49% (yoy). Sementara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk melaporkan laba bersih Rp9,05 triliun, naik 7,1% (yoy).
Performa NII dan Kredit
Dari sisi NII, BRI mencatat perolehan tertinggi yaitu Rp48,5 triliun, naik 6,64% (yoy). Bank ini mencatat penurunan deposito 9% (yoy) per Mei 2026 sehingga meningkatkan porsi dana murah (CASA) yang tumbuh 18% (yoy). BRI juga menekan beban bunga sebesar 14% (yoy).
NII Bank Mandiri tercatat Rp34,86 triliun, tumbuh 9,97% (yoy). Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan pencapaian tersebut berkat fungsi intermediasi yang menunjukkan tren positif. Pada lima bulan pertama 2026, Bank Mandiri menyalurkan kredit bank only sebesar Rp1.580 triliun, naik 20,6% (yoy), mengalir ke sektor produktif termasuk hilirisasi industri dan UMKM.
BNI mengalami pertumbuhan NII tertinggi, 15,19% (yoy) menjadi Rp18,12 triliun. Sebaliknya, NII BCA menyusut 0,51% (yoy) menjadi Rp32,95 triliun pada periode yang sama.
Pencadangan dan Strategi Manajemen Risiko
Dalam pembentukan biaya pencadangan (impairment) terlihat perbedaan strategi antar bank besar. BNI mencatat kenaikan pencadangan paling besar, 30,53% menjadi Rp3,72 triliun. BRI meningkatkan biaya pencadangan 7,50% menjadi Rp19,06 triliun, tertinggi di antara keempat bank.
Sementara itu, Bank Mandiri memangkas impairment 15,75% menjadi Rp3,21 triliun dan BCA menurunkan impairment 13,45% menjadi Rp1,22 triliun.
Direktur Utama BRI sekaligus Ketua Umum Perbankan Nasional Hery Gunardi meminta seluruh bank memperkuat manajemen risiko, khususnya terhadap potensi kenaikan kredit bermasalah akibat kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah. Ia meminta setiap bank memiliki daftar pemantauan debitur (watch list) agar mitigasi dapat dilakukan lebih awal.
“Lebih baik proaktif hari ini daripada reaktif enam bulan ke depan,”
Hery menggarisbawahi empat prioritas bagi industri perbankan: menjaga ketahanan likuiditas lewat pengelolaan aset dan liabilitas serta memperkuat CASA; menyalurkan kredit secara selektif ke sektor produktif; mempertahankan kualitas aset melalui underwriting ketat, sistem early warning, dan kesiapan fungsi penagihan; serta mempercepat transformasi digital dan pemanfaatan analitik data.
Hery menilai kenaikan BI Rate sebesar total 100 basis poin pada 2026 telah memasukkan industri ke era pertumbuhan yang lebih selektif, karena kenaikan tersebut mendorong tekanan repricing dana pihak ketiga dan potensi penurunan net interest margin (NIM).
Proyeksi dan Tantangan NIM
Analisis pasar mencatat tren biaya provisi bulanan yang relatif stabil untuk beberapa bank besar, sementara tekanan dari kenaikan harga energi dan pelemahan rupiah menuntut kehati-hatian pemberian kredit.
Riset juga mencatat NIM gabungan empat bank besar turun 21 basis poin (yoy) menjadi 5,1% akibat penurunan yield aset. Para analis memperkirakan biaya dana akan meningkat mulai Juni, yang menambah tekanan terhadap NIM.
Proyeksi laba bersih empat bank hingga akhir tahun diperkirakan mencapai total Rp198,87 triliun, dengan rincian proyeksi: BCA Rp60,61 triliun; Bank Mandiri Rp57,78 triliun; BRI Rp59,25 triliun; dan BNI Rp21,33 triliun.
Ikuti Skybee
