— Investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (18/6/2026), dengan nilai bersih sebesar Rp 111,3 miliar. Tekanan jual tersebut mendorong sejumlah saham unggulan mengalami pelepasan yang signifikan.

Salah satu saham yang terjual paling besar adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan net sell mencapai Rp 557,2 miliar. Di sisi lain, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi saham yang paling banyak dibeli asing dengan net buy sebesar Rp 150,89 miliar.

Saham yang Diobral dan Diserok

Selain BBRI, asing juga mencatatkan penjualan signifikan pada PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dengan net sell Rp 98,8 miliar. Sementara itu, pembelian asing terbesar berikutnya terjadi pada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) senilai Rp 106,9 miliar.

Pergerakan Indeks dan Transaksi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 48,4 poin atau 0,78% ke level 6.172,3 pada akhir perdagangan. Sebanyak 258 saham naik, 419 saham turun, dan 137 saham stagnan. Total nilai transaksi tercatat Rp 17,9 triliun.

Sektor-Sektor yang Bergerak

Mayoritas sektor mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan. Sektor infrastruktur memimpin koreksi dengan penurunan 1,9%, diikuti sektor keuangan turun 1,3% dan sektor kesehatan turun 1,0%. Sektor properti dan perindustrian masing-masing melemah 0,6% dan 0,1%.

Di sisi lain, beberapa sektor mencatat penguatan, antara lain sektor barang baku naik 2,49%, barang konsumsi non primer naik 0,4%, serta sektor transportasi naik 0,29%.

Faktor Yang Memengaruhi Sentimen

Rumusan Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut pasar cenderung berhati-hati menjelang rilis MSCI Global Market Accessibility Review pada Jumat dini hari (19/6/2026) WIB dan Annual Market Classification Review pada 23 Juni. “Kedua agenda tersebut dinilai penting bagi status Indonesia dalam indeks acuan MSCI. Perhatian pasar juga tertuju pada keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia,” demikian keterangan Pilarmas.

Di samping itu, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam rapat pada 18 Juni 2026. Kenaikan ini mengikuti kenaikan 25 bps pada rapat di luar jadwal pada 9 Juni yang bertujuan mendukung nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta menopang pertumbuhan ekonomi.