Skybee — Tokoh muda Nahdlatul Ulama, Ali Ramadhan, meluncurkan buku berjudul Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Sang Arsitek Presisi Polri di kawasan Semanggi, Jakarta, Rabu (24/6/2026). Karya itu menelaah perjalanan karier dan gagasan kepemimpinan Listyo Sigit Prabowo sejak penugasan pertamanya hingga pengangkatannya sebagai Kapolri pada Januari 2021.
Peluncuran dihadiri oleh analis politik Boni Hargens, yang menulis prolog, seorang dosen politik dari Universitas Nasional yang bertindak sebagai associate professor, serta Firdaus Syam sebagai penanggap. Acara menghadirkan pendekatan naratif dan analitis untuk merekonstruksi jejak karier Kapolri.
Menurut Ali Ramadhan, kepemimpinan tidak tumbuh secara instan dan reformasi Polri masih panjang. Ia menilai tantangan ke depan akan semakin kompleks, namun menilai bahwa Kapolri telah meletakkan fondasi berupa paradigma kerja yang menekankan ketepatan langkah dibandingkan kekuatan otot.
Dalam pengantar peluncuran, Ali menyatakan bahwa institusi Polri mulai membuka diri terhadap kritik dan menempatkan transparansi sebagai kekuatan, bukan kelemahan. Buku ini mencoba memaparkan bagaimana visi tersebut diterapkan dalam praktik kepemimpinan.
Struktur Buku dan Isinya
Buku setebal lebih dari 300 halaman itu tersusun dalam lima bab utama, diawali prolog oleh Boni Hargens dan ditutup dengan bab berjudul “Transformasi Polri Menuju Bhayangkara Masa Depan.” Secara garis besar, karya ini terbagi menjadi dua bagian besar.
Bagian pertama, bertema “Fondasi dan Visi,” mengulas perjalanan karier Listyo serta konsep transformasi PRESISI—Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan. Bagian kedua, bertema “Disrupsi Demokrasi & Korps Bhayangkara Masa Depan,” membahas tantangan kontemporer yang dihadapi Polri termasuk demonstrasi besar Agustus–September 2025 dan Grand Strategy Polri 2025–2045.
Analisis Paradigma PRESISI
Selain aspek biografis, buku ini menempatkan visi PRESISI dalam kerangka akademik disrupsi demokrasi. Ali menguraikan bagaimana paradigma itu dimaksudkan untuk merespons fenomena viralitas, kondisi post-truth, serta tuntutan due process of law di era digital.
Dalam penjelasan buku, konsepsi PRESISI juga dirujuk pada beberapa pemikiran akademik untuk menjelaskan peran institusi kepolisian sebagai penyeimbang sosial di tengah polarisasi, tekanan media sosial, dan meningkatnya ekspektasi publik.
Lima Pesan Utama
Ali merangkum lima pesan utama dari buku tersebut. Pertama, kepemimpinan merupakan proses yang berkembang dalam waktu panjang, bukan hasil instan. Kedua, PRESISI dipandang sebagai paradigma untuk menanggapi tantangan institusional di era digital.
Ketiga, Polri diposisikan sebagai shock absorber demokrasi; menjaga demokrasi merupakan tanggung jawab kolektif bangsa, bukan beban tunggal institusi kepolisian. Keempat, buku tidak bersifat memuja tetapi membuka ruang kritik dan objektivikasi terhadap peran Listyo dalam membawa korps melalui tantangan disrupsi demokrasi.
Kelima, perjalanan reformasi Polri masih panjang meski fondasi kepemimpinan telah diletakkan, kata Ali, yang menyebutkan bahwa paradigma kepemimpinan yang menekankan ketepatan langkah menjadi modal penting ke depan.
Buku ini merekam peran Listyo sebagai ajudan Presiden Joko Widodo serta berbagai penugasan lapangan selama kariernya, sekaligus memetakan peta jalan transformasi yang disebut Strategi Besar Polri 2025–2045 menuju institusi yang unggul dan kesiapan menghadapi ancaman hibrida di masa depan.
Ikuti Skybee
