Skybee — Ancaman kejahatan siber terhadap pasar modal terus berkembang pesat, demikian peringatan yang disampaikan Ketua Umum Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI), Firlie Ganinduto.
Berdasarkan laporan yang dikutip Firlie, kerugian global akibat serangan siber diproyeksikan mencapai sekitar USD10,5 triliun per tahun pada 2025, naik signifikan dari USD3 triliun pada 2015. Sebagian besar kerugian berasal dari ransomware dan pelanggaran data, khususnya di sektor jasa keuangan, perawatan kesehatan, dan manufaktur.
Firlie menekankan selain dampak finansial, insiden siber juga menimbulkan pengeluaran untuk pemulihan sistem dan tanggung jawab hukum serta merusak reputasi merek yang berkaitan dengan perlindungan data nasabah atau konsumen.
Langkah Kolaboratif Antara ADIGSI dan APEI
Sebagai upaya mitigasi, ADIGSI menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI). Firlie menyatakan kerja sama ini strategis mengingat peran pasar bursa dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam kemitraan internasionalnya, ADIGSI baru-baru ini juga menjalin kerja sama dengan CREST International dan menetapkan standar global di bidang keamanan siber.
Program Penilaian dan Pembentukan Tim Respon
Melalui kolaborasi tersebut, ADIGSI akan menyelenggarakan Executive Cyber Resilience Assessment Program sebagai langkah awal bagi perusahaan efek untuk mengukur kesiapan siber mereka. Program ini juga menyediakan konseling bagi perusahaan efek untuk memperkuat keamanan siber.
Selain itu, kerja sama mencakup kolaborasi dalam pembentukan Computer Security Incident Response Team (CSIRT) yang bertugas mencegah, mendeteksi, merespons, dan memulihkan sistem dari insiden serangan siber di pasar bursa.
“Ini akan menjadi referensi praktis yang dapat digunakan oleh perusahaan efek untuk melakukan evaluasi awal terhadap kesiapan dan ketahanan siber masing-masing,” ujar Firlie.
Respons APEI
Ketua APEI, Prama Nugraha, menyambut baik nota kesepahaman tersebut. Ia menilai digitalisasi meningkatkan aksesibilitas, efisiensi, dan kualitas layanan perusahaan efek, namun juga memperluas eksposur risiko siber.
Nugraha merinci ancaman yang mengintai, termasuk phishing, social engineering, account takeover, ransomware, kebocoran data, serangan terhadap aplikasi dan API, penyalahgunaan akses internal, serta gangguan pada penyedia teknologi pihak ketiga.
“Di sinilah konteks perlindungan aset dan data nasabah, serta kepercayaan investor menjadi begitu penting,” kata Nugraha. Ia berharap MoU ini menjadi landasan penguatan kapasitas, peningkatan kesiapan, dan pembangunan ketahanan siber di industri pasar modal Indonesia.
Forum dan Partisipasi Pemangku Kepentingan
Kegiatan yang diselenggarakan ADIGSI dan APEI bertajuk Capital Market Cyber Resilience Forum mengangkat tema “Strengthening Trust and Security in the Digital Capital Market”. Forum dirancang sebagai wadah eksekutif dan pembelajaran praktis untuk memperkuat pemahaman serta kesiapan perusahaan efek terhadap risiko siber.
Acara ini menghadirkan sesi diskusi strategis dan dihadiri perwakilan Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia, serta Badan Siber dan Sandi Negara.
Ikuti Skybee
