— Wells Fargo memperkirakan harga emas berpeluang menembus US$6.000 per ons troi pada 2027, meski pasar logam mulia sempat mengalami koreksi tajam beberapa bulan terakhir. Bank investasi itu menaikkan target harga emas akhir 2026 dan memproyeksikan kenaikan lanjutan pada tahun berikutnya.

Dalam laporan prospek pertengahan tahun yang dirilis Kamis (18/6/2026), Wells Fargo menaikkan target harga emas untuk akhir 2026 ke kisaran US$5.300–5.500 per ons troi. Bank tersebut memproyeksikan harga emas akan bergerak ke rentang US$5.800–6.000 per ons troi pada akhir 2027.

Faktor Pendukung Reli Emas

Kepala Strategi Ekuitas Global dan Aset Riil Wells Fargo, Sameer Samana, menyatakan reli emas saat ini didorong oleh faktor struktural, bukan sekadar siklus jangka pendek. “Emas tetap menjadi salah satu ide investasi dengan keyakinan tertinggi yang kami miliki,” kata Samana.

Wells Fargo menilai inflasi yang tetap tinggi, defisit fiskal yang membengkak, serta ketidakpastian geopolitik menjadi pendorong utama permintaan emas. Bank juga mengingatkan harga emas masih bisa mengalami tekanan jangka pendek dan berpotensi turun di bawah US$4.000 per ons troi, namun prospek jangka panjang tetap menunjang kenaikan.

Peran Bank Sentral dan Diversifikasi Cadangan

Samana mengatakan meningkatnya ketidakpastian global mendorong banyak bank sentral mencari alternatif aset cadangan selain obligasi pemerintah AS dan kas. “Kami meyakini emas menjadi instrumen diversifikasi tambahan yang penting. Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, bank sentral terus mencari tempat menyimpan cadangan devisa selain US Treasury dan uang tunai,” ujarnya.

Saat ini, harga emas spot berada di kisaran US$4.357 per ons troi, naik sekitar 0,6% pada perdagangan terbaru, namun masih lebih dari 20% di bawah rekor tertinggi yang tercatat awal tahun ini.

Inflasi dan Utang Jadi Penopang

Chief Investment Officer Wells Fargo, Darrell Cronk, memaparkan tema utama ekonomi global pada 2026 akan didominasi faktor geopolitik, persaingan sumber daya strategis, serta perubahan rantai pasok. Menurutnya, inflasi diperkirakan melandai pada paruh kedua tahun berjalan, namun kondisi inflasi rendah seperti sebelum pandemi Covid-19 kemungkinan tidak kembali dalam waktu dekat.

Cronk menyebut tarif perdagangan, kenaikan biaya energi, belanja pemerintah yang besar, serta kebutuhan investasi untuk kecerdasan buatan akan menjaga tekanan inflasi pada level relatif tinggi. Wells Fargo juga menilai pasar masih meremehkan dampak defisit fiskal yang terus meningkat terhadap pasar obligasi. “Saya pikir pasar sudah cukup lama salah membaca arah suku bunga,” kata Cronk.

Prospek Logam Lainnya

Selain emas, Wells Fargo optimistis terhadap logam industri seperti tembaga. Bank memperkirakan pembangunan pusat data untuk AI, tren elektrifikasi global, dan kebutuhan infrastruktur energi akan terus menopang permintaan logam dalam beberapa tahun mendatang.

Samana menambahkan peluang investasi emas saat ini dinilai menarik karena risiko penurunan relatif lebih terbatas dibandingkan potensi kenaikannya. “Untuk membuat emas tidak menarik, negara-negara di dunia harus mampu mengendalikan defisit anggaran dan menjaga stabilitas harga secara konsisten. Kenyataannya, pembuat kebijakan sering memilih jalan yang lebih mudah,” ujarnya.