— Goldman Sachs memperkirakan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz tidak akan kembali sepenuhnya ke kondisi sebelum perang. Dalam catatan riset bertanggal 17 Juni 2026, bank investasi itu menilai pemulihan hanya mencapai sekitar 70% dari kapasitas pra-konflik.

Analisis yang ditandatangani sejumlah ekonom, termasuk Yulia Zhestkova Grigsby, menyebut negara-negara produsen di Teluk sudah beralih ke rute alternatif untuk menyalurkan energi ke pasar global, sehingga ketergantungan pada Hormuz berkurang.

Pemulihan Volume dan Proyeksi Produksi

Para analis Goldman Sachs menulis bahwa “normalisasi ekspor minyak dari Teluk ke level pra-perang mungkin membutuhkan peningkatan arus di Hormuz sebesar 13 juta barel per hari (bpd) dari level saat ini.” Peningkatan ini diperkirakan akan berlangsung hingga akhir bulan depan, sementara produksi Teluk diharapkan pulih sepenuhnya pada Oktober 2026.

Sebelum konflik, Selat Hormuz menyalurkan sekitar 20 juta barel minyak dan produk turunannya setiap hari, menurut data yang dikutip dalam riset tersebut. Saat ini, arus lewat Hormuz diperkirakan baru mencapai sekitar 1,3 juta bpd.

Perubahan Rute dan Infrastruktur

Selama perang, beberapa negara Teluk mengoptimalkan jalur alternatif untuk menjaga kelangsungan ekspor. Arab Saudi meningkatkan penggunaan pipa yang menuju pantai Laut Merah; Uni Emirat Arab memaksimalkan pipa menuju Pelabuhan Fujairah; sedangkan Irak mengalihkan pengiriman ke Pelabuhan Ceyhan di Turki.

Perubahan strategi ini membuat volume besar minyak kini lebih banyak mengalir lewat Pelabuhan Yanbu (Laut Merah), Fujairah, dan Ceyhan dibandingkan melalui Hormuz.

Motivasi Menuju Ketahanan Pasokan

Beberapa negara Teluk terlihat enggan kembali bergantung penuh pada Selat Hormuz meski jalur tersebut dibuka. Menteri Perdagangan Luar Negeri Uni Emirat Arab, Thani Al Zeyoudi, menyatakan, “Kami bergerak menuju kondisi nol ketergantungan pada Hormuz, terlepas dari apakah selat itu terbuka atau tidak.”

Kuwait juga sedang membahas kerja sama dengan Arab Saudi dan UEA untuk memperluas jaringan pipa agar ekspor dapat dialihkan melalui jalur alternatif bila diperlukan.

Goldman Sachs mencatat bahwa ketersediaan kapal tanker bukan hambatan utama pemulihan arus, melainkan keengganan sebagian pemilik kapal yang masih ragu melintasi wilayah yang sempat menjadi zona konflik.

Selat Hormuz tetap menjadi titik sumbatan energi yang sangat strategis, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Gangguan keamanan di selat tersebut dapat langsung berdampak pada pasar komoditas global, sehingga upaya pembangunan pipa alternatif menjadi langkah mitigasi risiko jangka panjang bagi negara-negara produsen.