— Harga emas dunia kembali naik lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (18/6/2026), menutup sebagian penurunan tajam sehari sebelumnya yang dipicu sinyal kebijakan moneter ketat dari The Fed.

Penguatan logam mulia ini dipengaruhi oleh turunnya harga minyak global setelah pengumuman kesepakatan sementara antara pemerintah AS dan Iran, yang meredam tekanan inflasi dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.

Dinamika Harga Terbaru

Hingga pukul 04.41 GMT, harga emas di pasar spot tercatat naik 1,3% ke US$ 4.311,83 per ons troi. Sehari sebelumnya, logam mulia ini sempat merosot 1,7% setelah indikasi kemungkinan kenaikan suku bunga dari The Fed.

Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus tercatat di US$ 4.332,50, turun 1,1% dari posisi sebelumnya.

Dampak Geopolitik dan Sentimen Pasar

Analis pasar senior OANDA Kelvin Wong menyebutkan aksi ambil untung (short covering) menjadi salah satu faktor yang mendorong reli harga emas setelah koreksi tajam kemarin.

“Kabar positif dari Timur Tengah yang menekan harga minyak menjadi katalis utama,” kata Wong.

Kesepakatan sementara antara AS dan Iran memuat 14 poin, termasuk perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari untuk membuka ruang negosiasi perdamaian permanen. Berita tersebut menekan harga minyak dan meredam kekhawatiran pasar terhadap inflasi.

Peran Kebijakan Moneter AS

Pasar kini juga terus memantau kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Ketua Dewan Gubernur The Fed Kevin Warsh. Dalam proyeksi terbaru, sembilan dari 19 pembuat kebijakan di bank sentral AS menyepakati perlunya kenaikan suku bunga tahun ini.

Berdasarkan alat CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember 2026 meningkat menjadi 85%, naik dari 61% sebelum proyeksi tersebut diumumkan.

“Saya memperkirakan kenaikan harga emas akan tetap terbatas, mengingat pasar telah memperhitungkan kemungkinan besar dimulainya siklus kenaikan suku bunga oleh The Fed,” ujar Wong.

Pergerakan Logam Mulia Lainnya

  • Perak naik 1,5% menjadi US$ 69,03 per ons.
  • Platinum menguat 1,3% ke US$ 1.759,77 per ons.
  • Paladium naik 1,4% menjadi US$ 1.330,26 per ons.

Relasi Emas dan Inflasi

Secara historis, emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Kenaikan harga minyak biasanya mendorong biaya produksi dan transportasi, yang kemudian meningkatkan tekanan inflasi dan mendorong respons pengetatan dari bank sentral.

Dalam lingkungan suku bunga tinggi, emas cenderung kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil (yield) seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya. Sebaliknya, saat tekanan inflasi mereda — misalnya ketika harga minyak turun — daya tarik emas terhadap investor cenderung meningkat.