— Pengembangan industri bioetanol dinilai berpotensi menjadi mesin baru bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain memperkuat ketahanan energi, bioetanol disebut mampu menambah nilai pada sektor pertanian, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung transisi menuju ekonomi berkelanjutan.

Pernyataan itu disampaikan dalam workshop bertajuk Bioetanol dan Ketahanan Energi Indonesia: Peluang, Tantangan, dan Kemitraan yang digelar Kadin Indonesia Institute bersama Global Centre for Green Fuels (GCGF) di Menara Kadin Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).

Forum berlangsung di tengah meningkatnya perhatian terhadap ketahanan energi nasional setelah gangguan pasokan di kawasan internasional. Isu tersebut kembali menegaskan kebutuhan sumber energi domestik yang lebih andal dan berkelanjutan.

Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian mengatakan keamanan energi kini tidak sekadar soal pasokan, melainkan juga menjadi masalah ekonomi dan kepentingan strategis nasional.

“Keamanan energi bukan lagi sekadar masalah energi, melainkan telah menjadi masalah ekonomi dan kepentingan nasional kita. Gangguan rantai pasok energi global menunjukkan betapa rentannya negara-negara terhadap guncangan eksternal,”

Fakhrul menambahkan bahwa pengembangan bioetanol menghadirkan manfaat yang lebih luas daripada sekadar bahan bakar alternatif, dengan potensi efek berganda pada produktivitas pertanian dan investasi baru.

“Bioetanol mewakili lebih dari sekadar alternatif bahan bakar. Ini adalah peluang untuk mendiversifikasi bauran energi, memperkuat sektor pertanian, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung transisi Indonesia menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan,”

Tantangan Implementasi

Pemerintah sebelumnya menerbitkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 113.K/EK.05/MEM.E/2026 yang menetapkan implementasi campuran bioetanol E5 di enam provinsi mulai semester II-2026. Target selanjutnya adalah meningkatkan campuran menjadi E10 secara nasional mulai 2028.

Namun, sejumlah kendala masih perlu diatasi agar program berjalan sesuai rencana, termasuk kesiapan pasokan bahan baku, infrastruktur distribusi, dan kepastian investasi.

Managing Director GCGF Clarence Woo menyampaikan bahwa Indonesia memiliki peluang mempercepat pengembangan bioetanol dengan belajar dari pengalaman negara lain.

“Indonesia memiliki semua alasan untuk melangkah dengan keyakinan,”

Dalam sesi diskusi, Clarence mencontohkan bagaimana negara lain berhasil meningkatkan kadar etanol melalui kebijakan konsisten dan insentif investasi bagi produsen. Ia juga menyebut contoh Thailand terkait perbandingan harga E20 dan E10 sebagai bagian dari argumennya.

Workshop tersebut dihadiri Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian Kadin Indonesia Devi Erna Rachmawati serta Direktur Kadin Indonesia Institute Mulya Amri. Para peserta sepakat bahwa pengembangan bioetanol dapat menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional.