— Prospek saham sektor tambang mineral tetap solid seiring kenaikan harga beberapa logam utama seperti nikel dan tembaga. Kenaikan tersebut dipicu oleh tekanan pasokan, termasuk kebijakan domestik yang menekan kuota produksi bijih nikel untuk 2026.

Riset Phintraco Sekuritas menempatkan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebagai pilihan teratas di antara saham-saham tambang, didorong target harga yang menunjukkan potensi apresiasi signifikan.

Sumber Sentimen Harga Logam

Phintraco mencatat kenaikan harga nikel pada 2026 terkait potensi pengetatan pasokan global. Salah satu pemicunya adalah kebijakan pemerintah Indonesia yang memangkas kuota produksi bijih nikel 2026 menjadi 260–270 juta ton, sekitar 17% lebih rendah dibanding estimasi realisasi produksi 2025 sebesar 320 juta ton.

Harga tembaga juga tercatat naik setelah Amerika Serikat menerapkan tarif 50% terhadap produk tembaga setengah jadi, yang berdampak pada peningkatan impor dan pelebaran selisih harga Comex dan LME. Phintraco menyebut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan harga tembaga akan meningkat hingga 2032 seiring permintaan yang melampaui pasokan, didukung tren elektrifikasi, transisi energi, dan pembangunan infrastruktur.

“ESDM memperkirakan harga tembaga tetap meningkat hingga 2032 seiring pertumbuhan permintaan yang melampaui pasokan, didukung oleh tren elektrifikasi, transisi energi, dan pembangunan infrastruktur,” tulis Phintraco.

Isu Royalti dan Dampaknya

Phintraco mencatat pemerintah sempat mengusulkan kenaikan tarif royalti untuk beberapa mineral. Usulan tersebut mencakup royalti konsentrat tembaga menjadi 9–13% dan katoda 7%–10%, serta revisi skema royalti timah dengan tarif progresif, termasuk kenaikan tarif maksimum dari 10% menjadi 20% untuk harga mineral acuan (HMA) di atas US$50.000 per ton.

Phintraco menyoroti bahwa dengan rata-rata HMA timah telah mencapai US$51.101/ton pada awal 2026, produsen berpotensi dikenakan tarif royalti tertinggi jika kebijakan itu diterapkan.

“Dengan rata-rata HMA timah yang telah mencapai US$51.101/ton pada awal 2026, produsen berpotensi dikenakan royalti tertinggi apabila kebijakan tersebut diterapkan,” tulis Phintraco.

Saham Pilihan Phintraco

Phintraco Sekuritas memberi rating overweight untuk sektor mineral dan memilih beberapa saham unggulan. Untuk AMMN, Phintraco menetapkan target harga Rp8.700, mencerminkan potensi kenaikan sekitar 127% dari level saat riset.

  • AMMN — target Rp8.700 (potensi naik 127%)
  • PT Merdeka Battery Material Tbk (MBMA) — target Rp790 (46,3%)
  • PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) — target Rp5.000 (62%)
  • PT Vale Indonesia Tbk (INCO) — target Rp6.950 (36,9%)
  • PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) — target Rp3.800 (29,6%)
  • PT Timah Tbk (TINS) — target Rp4.950 (41,8%)

Phintraco juga mencatat risiko utama bagi sektor ini meliputi ketidakpastian terkait tarif royalti beberapa logam dan gejolak geopolitik yang dapat meningkatkan volatilitas harga.