Skybee — Pengobatan baru untuk diabetes tipe 2, enavogliflozin (Envlo) 0,3 mg, diperkenalkan sebagai terapi yang bekerja dengan mengeluarkan kelebihan gula darah melalui urin. Data klinis pada pasien Asia menunjukkan efektivitas obat ini dalam menurunkan kadar glukosa, sekaligus menuntut perhatian pada risiko metabolik, kardiovaskular, dan ginjal.
Perkenalan obat ini disampaikan di sela penandatanganan nota kesepahaman antara Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) dan Korean Diabetes Association (KDA) di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (27/6/2026). Hadirnya obat tersebut di Indonesia dianggap memberi pilihan terapi baru bagi pasien diabetes tipe 2.
Ketua Umum PERKENI Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, mengatakan, “Hadirnya enavogliflozin 0,3 mg di Indonesia memiliki makna penting karena menghadirkan pilihan terapi baru bagi pasien, sekaligus mendorong diskusi ilmiah mengenai bagaimana kita dapat mengelola diabetes tipe 2 dengan lebih baik pada populasi kita.”
Prof. Em Yunir menambahkan bahwa beban diabetes di Indonesia terus meningkat dan kolaborasi antara tenaga kesehatan, organisasi profesi, akademisi, serta industri diperlukan untuk meningkatkan kualitas terapi dan hasil jangka panjang pasien.
Data Prevalensi dan Tantangan
Head of Brand & Marketing Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Wicak Prasetiadi, mengemukakan sejumlah data terkait beban diabetes. Menurutnya, berdasarkan data IDF, Indonesia memiliki sekitar 20 juta orang dewasa dengan diabetes pada 2024 dan menduduki lima besar negara dengan jumlah penderita terbanyak.
Dr. Wicak menyatakan, “Diperkirakan tahun 2050 angka ini mencapai hampir 29 juta dan mirisnya sekitar 15 juta orang dewasa belum terdiagnosis. Sementara itu akibat diabetes dan komplikasinya menyebabkan lebih dari 130 ribu kematian orang dewasa setiap tahunnya.”
Ia menambahkan harapan bahwa kehadiran pakar Korea dan kerja sama lintas negara dapat memperkuat edukasi medis serta kolaborasi yang berkontribusi pada perawatan diabetes di Indonesia.
Fokus Pencegahan Komplikasi
Ahli endokrin dari RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, Prof. Dr. dr. Hikmat Permana, Sp.PD-KEMD, menyambut pengobatan ini sebagai pilihan yang dapat membantu mencegah komplikasi ginjal dan jantung akibat diabetes.
Prof. Hikmat menjelaskan mekanisme kerja golongan obat gliflozin yang ditemukan sejak 2015, yakni membantu mengeluarkan kelebihan gula darah melalui urin. “Jadi kencingnya dibanyakin, gula darahnya akan keluar,” ujarnya.
Ia juga menyoroti beban biaya perawatan komplikasi yang meningkat dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), khususnya biaya cuci darah dan pemasangan ring, sehingga pengendalian gula darah sebelum terjadi komplikasi perlu ditingkatkan.
Riset dan Pertukaran Akademik
Prof. Yong-ho Lee dari Division of Endocrinology and Metabolism, Yonsei University Severance Hospital, menyebut enavogliflozin sebagai inhibitor SGLT-2 dengan bukti klinis yang diperoleh khusus pada pasien Asia dengan diabetes tipe 2. Ia menekankan bahwa pemilihan terapi pada pasien Asia harus mempertimbangkan efek pada parameter metabolik seperti berat badan dan resistensi insulin.
Prof. Yong-ho Lee menyatakan, “Dalam menangani pasien Asia, pemilihan terapi tidak hanya perlu mempertimbangkan efektivitas dalam menurunkan kadar glukosa darah, tetapi juga dampaknya terhadap parameter metabolik, seperti berat badan dan resistensi insulin.”
Prof. Sung-rae Kim, Ketua Korean Diabetes Association, mengatakan nota kesepahaman akan menghubungkan komunitas medis kedua negara untuk meningkatkan perawatan melalui penelitian ilmiah dan pendidikan. “Kami akan terus menciptakan peluang yang bermakna untuk pertukaran akademik melalui penelitian bersama dan kolaborasi pendidikan,” ujarnya.
Seong-soo Park, CEO Daewoong Pharmaceutical, menyatakan dukungan perusahaan untuk peluncuran terapi baru ini dan komitmen pada pertukaran akademik serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan di dalam negeri. “Lebih dari sekadar menyediakan produk, kami ingin berkontribusi pada peningkatan kualitas tata laksana diabetes di Indonesia,” kata Park.
Ikuti Skybee
