— Penderita diabetes tipe 2 disarankan menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL-C) lebih rendah dari batas normal untuk mengurangi risiko komplikasi kardiovaskular. Target LDL-C yang lebih ketat dianggap perlu terutama bagi pasien berisiko tinggi atau yang sudah memiliki penyakit jantung.

Dalam praktik klinis, pengelolaan diabetes tidak cukup hanya mengendalikan gula darah, kata Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE. Menurutnya, penurunan LDL-C menjadi salah satu prioritas terapi pada pasien diabetes tipe 2.

Target Kadar LDL-C Yang Disarankan

Prof. Sidartawan menjelaskan target normal LDL-C adalah 70 mg/dL. Namun bagi pasien dengan risiko kardiovaskular tinggi, termasuk penderita diabetes tipe 2, target turun menjadi 55 mg/dL, dan untuk pasien yang sudah menderita penyakit kardiovaskular ditetapkan 40 mg/dL.

Dr. Wicak Prasetiadi, Head of Brand & Marketing di Daewoong Pharmaceutical Indonesia, menyebut banyak pasien di Indonesia belum mencapai target tersebut. “Pemeriksaan di laboratorium kadang disebut sudah bagus bila kadar di bawah 100 mg/dL, padahal pada pasien-pasien high risk, di bawah itu belum bagus, bahkan harus lebih lower,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya edukasi mengenai target LDL-C dan kepatuhan pengobatan.

Prevalensi Dislipidemia Pada Pasien Diabetes

Dislipidemia sering ditemui pada pasien diabetes tipe 2. Studi domestik yang dikutip menyebut dislipidemia teridentifikasi pada 74% dari 100 pasien diabetes tipe 2, dan pada pasien dengan diabetes sekaligus penyakit jantung koroner angka itu mencapai 85%.

Data registri lain menyorot pencapaian target LDL-C di Indonesia pada pasien berisiko tinggi: hanya 4,9% mencapai LDL-C kurang dari 55 mg/dL, sementara 21,2% mencapai kurang dari 70 mg/dL.

Pendekatan Pengelolaan Lipid yang Presisi

Prof. Da Hea Seo dari Inha University Hospital menambahkan bahwa risiko kardiovaskular residual pada pasien diabetes tidak sepenuhnya dijelaskan oleh kadar LDL-C saja. “Resistensi insulin dapat mengubah karakteristik partikel LDL dan meningkatkan jumlah small dense LDL, yaitu partikel LDL berukuran kecil dan padat yang lebih mudah menembus dinding pembuluh darah,” katanya.

Menurut Prof. Da Hea Seo, hal itu membuat dua pasien dengan kadar LDL-C sama bisa memiliki tingkat risiko berbeda, sehingga diperlukan pendekatan pengelolaan lipid yang lebih presisi. Ia juga menyatakan bahwa terapi kombinasi yang menargetkan sintesis dan absorpsi kolesterol dapat menjadi pilihan bagi pasien yang sulit mencapai target dengan monoterapi.

Peran Terapi Kombinasi

Prof. Sidartawan menyebut kombinasi Ezetimibe dan Rosuvastatin sebagai strategi untuk meningkatkan pencapaian target LDL-C pada pasien berisiko tinggi. Ezetimibe menghambat penyerapan kolesterol dari usus halus, sedangkan Rosuvastatin termasuk golongan statin yang menghambat enzim pembentuk kolesterol di hati.

“Obat kombinasi ini yang satu menurunkan pembentukan kolesterol (Rosuvastatin) di hati, yang satu menghambat penyerapan kolesterol (Ezetimibe) di usus sehingga gak masuk ke dalam darah. Jadi kan (kolesterol jahat) turun,” ujar Prof. Sidartawan.

Upaya Industri Kesehatan

Seong-soo Park, CEO Daewoong Pharmaceutical, menyatakan perusahaan berkomitmen menghadirkan solusi terapi bagi pasien penyakit kronis di Indonesia dan memperkuat kerja sama medis antarnegara. Ia juga menyebut rencana mendorong penelitian bersama berbasis data klinis pasien dalam negeri untuk membangun bukti klinis yang relevan bagi pasien Asia.

Park menegaskan, “Kami akan terus memperkuat komunikasi dan kolaborasi antara tenaga medis Korea Selatan dan Indonesia guna mempererat kerja sama medis kedua negara serta membantu meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.”