Skybee — Bank sentral memperkuat imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sehingga instrumen ini semakin menarik bagi perbankan maupun investor nonbank. Namun, peningkatan daya tarik itu turut memberi tekanan likuiditas dan kompetisi penghimpunan dana di sektor perbankan.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Hery Gunardi, mengatakan SRBI berpotensi mengurangi kapasitas intermediasi perbankan karena kemampuannya menyerap likuiditas.
Daya Tarik SRBI Dorong Pengetatan Likuiditas
Hery menjelaskan saat likuiditas tersedot oleh alokasi ke SRBI, bank terdorong menyesuaikan suku bunga deposito untuk tetap kompetitif dalam menghimpun dana masyarakat. Akibatnya, pengetatan likuiditas sektor perbankan menjadi tak terelakkan.
“Kenaikan outstanding, yield SRBI dan volumenya memperbesar tekanan likuiditas dan memperketat kompetisi penghimpunan dana rupiah,”
kata Hery dalam acara Mid Year Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Imbal Hasil SRBI dan Perbedaan Dengan Deposito
Berdasarkan kurva imbal hasil transaksi pasar uang, rata-rata tertimbang (RRT) yield SRBI di pasar sekunder hingga Jumat (19/6/2026) terus meningkat. Imbal hasil SRBI tenor satu bulan tercatat 6,95%, tenor tiga bulan 7,24%, dan tenor 12 bulan mencapai 7,67%.
Sementara suku bunga deposito satu bulan rata-rata hanya sebesar 4,26% per Mei 2026 menurut laporan Bank Indonesia. Kondisi biaya dana tersebut berimplikasi pada tingkat bunga kredit rata-rata yang tercatat 8,72%.
Bank Pilih Penempatan atau Kredit?
Dengan selisih imbal hasil yang signifikan, menempatkan dana pada SRBI bisa menjadi alternatif lebih menarik bagi perbankan dibandingkan menyalurkan kredit. Hery mencatat outstanding SRBI hingga akhir Mei 2026 mencapai Rp 979,88 triliun, naik dibandingkan Rp 730,90 triliun pada akhir Desember 2025.
Dari total tersebut, kepemilikan perbankan mencapai Rp 677,89 triliun. Investor nonbank memegang Rp 260,44 triliun, terdiri atas investor domestik sebesar Rp 43,95 triliun dan investor asing Rp 216,48 triliun.
“Nah, pertumbuhan outstanding yang signifikan ini menunjukkan bahwa SRBI semakin menjadi instrumen penempatan dana yang kompetitif, baik bagi bank maupun investor nonbank,”
ujar Hery.
Pengaruh Kenaikan BI-Rate
Hery, yang juga menjabat Direktur Utama BRI, mengatakan penguatan daya tarik SRBI tidak terlepas dari kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan imbal hasil instrumen tersebut di seluruh tenor setelah menaikkan BI-Rate sebesar 100 basis poin sepanjang Mei–Juni 2026.
Kebijakan bank sentral bertujuan menarik arus masuk investasi portofolio asing dan memperkuat nilai tukar rupiah. Menurut Hery, kenaikan BI-Rate juga memberi tekanan pada penyesuaian bunga DPK (repricing) sehingga biaya dana (cost of fund/CoF) perbankan berpotensi meningkat.
Hery memperkirakan kondisi ini akan menekan net interest margin (NIM) perbankan dan mendorong industri menerapkan strategi pertumbuhan yang lebih selektif.
“Artinya, buat perbankan, cost of fund akan memiliki kecenderungan untuk naik. Kalau cost of fund atau cost of capital-nya meningkat, maka dalam kondisi seperti ini disiplin menjadi kata kunci. Sekarang kita memasuki era selective growth atau pertumbuhan yang selektif,”
tutup Hery.
Ikuti Skybee
