— PBB melaporkan puluhan ribu warga Palestina di Jalur Gaza kini mengalami gangguan pendengaran serius akibat suara ledakan berulang sejak serangan udara dimulai Oktober 2023. Laporan itu dirilis bertepatan dengan Hari Internasional Tuna Netra-Tuna Rungu, Senin (29/5/2026).

Organisasi dunia itu menyatakan kondisi memburuk karena banyak penyandang disabilitas kehilangan alat bantu esensial — seperti kursi roda dan alat bantu dengar — setelah tempat tinggal mereka hancur.

Krisis Kemanusiaan Di Pengungsian Yang Padat

PBB menyorot risiko ganda yang kini dihadapi penyandang disabilitas di Gaza. Mereka kerap tidak dapat mendengar perintah evakuasi, tidak melihat jalan, atau tidak mampu bergerak tanpa bantuan ketika zona bahaya dan lokasi pengungsian berubah cepat.

“Sebagian dari mereka tidak dapat mendengar perintah evakuasi, tidak bisa melihat jalan, atau tidak mampu bergerak tanpa bantuan. Hal ini menempatkan mereka pada risiko ganda di tengah perubahan cepat zona bahaya dan lokasi pengungsian,” tulis PBB dalam laporannya.

Menurut laporan tersebut, banyak warga di Jalur Gaza terus menghadapi ketidakamanan dan dipaksa mengungsi berulang kali. Akses terhadap layanan dasar sangat terbatas, memperburuk situasi bagi penyandang disabilitas yang tinggal di lokasi pengungsian padat, bangunan rusak parah, dan penampungan sementara tanpa layanan air bersih, sanitasi, maupun perlindungan memadai.

Dampak Medis Dan Keterbatasan Sistem Kesehatan

PBB menegaskan gangguan pendengaran massal di Gaza merupakan akibat trauma akustik skala besar dari perang modern di wilayah padat penduduk. Ledakan bom udara, artileri, dan rudal sering melampaui 140 desibel — tingkat yang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada gendang telinga dan saraf pendengaran.

Situasi kian parah karena sistem kesehatan di Gaza terpuruk. Blokade ketat menyebabkan rumah sakit kekurangan obat, peralatan operasi, dan spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan untuk menangani cedera telinga akut. Akibatnya, cedera yang seharusnya bisa ditangani berkembang menjadi ketulian permanen.

PBB kembali mengingatkan bahwa kelompok paling rentan—penyandang disabilitas, perempuan, anak-anak, dan lanjut usia—menanggung dampak paling berat dari konflik yang berkepanjangan, termasuk ancaman langsung terhadap keselamatan hidup akibat kehilangan kemampuan mendengar sinyal bahaya, sirene, atau suara reruntuhan di sekitar mereka.