Skybee — Konflik yang melibatkan Iran mendorong lonjakan upaya penimbunan cadangan minyak dan gas strategis di berbagai negara. Penutupan Selat Hormuz selama lebih dari tiga bulan yang sempat memangkas sekitar seperlima pasokan minyak dunia menjadi sinyal bagi banyak pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi domestik.
Langkah kolektif ini, yang meliputi pelepasan cadangan darurat dan penambahan stok nasional, diperkirakan memicu kebutuhan pasar global terhadap minyak mentah dan produk turunannya dalam skala besar.
Respon Global Saat Krisis
Selama konflik, dua strategi utama tercatat membantu menstabilkan pasar energi. Pertama, anggota Badan Energi Internasional (IEA) melepas cadangan darurat secara kolektif—total mencapai 400 juta barel—sebagai penanganan darurat atas gangguan pasokan.
Kedua, China menggunakan cadangan strategis domestik yang sangat besar, lebih dari satu miliar barel, untuk mengurangi pembelian minyak mentah sekitar sepertiga selama periode konflik. Pemerintah Cina menyebut cadangan itu sebagai “dana darurat” yang membantu mengurangi beban fiskal dan meredam guncangan ekonomi.
Negara-Negara yang Bergerak
Beberapa negara importir yang paling terdampak mulai mempercepat pembangunan kapasitas penyimpanan dan revisi kebijakan energi:
- India: Sebagai importir minyak terbesar ketiga, India saat ini hanya memiliki cadangan untuk sekitar delapan hari impor. Untuk mencapai standar 90 hari menurut aturan IEA, dibutuhkan tambahan sekitar 400 juta barel. Sebagai langkah awal, Oil and Natural Gas Corporation diperintahkan membangun cadangan baru sebesar 13 juta barel.
- Pakistan: Negara ini yang sebelumnya mengandalkan sekitar 90% pasokan dari Timur Tengah berencana menambah kapasitas penyimpanan hingga 35 juta barel.
- Australia dan Singapura: Australia menyiapkan dana sekitar US$7 miliar untuk mengamankan minimal 50 hari pasokan bahan bakar, sementara Singapura menimbang perluasan wilayah penyimpanan gas dan minyak.
- Eropa dan kawasan Timur Tengah: Beberapa negara Eropa meningkatkan penyimpanan gas di bawah kontrol pemerintah setelah ketergantungan terhadap LNG dari AS meningkat. Perusahaan-perusahaan minyak besar juga memperluas fasilitas penyimpanan mereka di luar wilayah asal demi fleksibilitas ekspor saat krisis.
Dampak Terhadap Pasokan dan Harga
Perhitungan menunjukkan ambisi penimbunan global ini dapat membutuhkan sekitar 500 juta barel minyak mentah dan produk turunannya untuk mengisi tangki baru. Selain itu, sekitar 400 juta barel cadangan yang digunakan selama konflik perlu diisi ulang.
Gabungan kebutuhan pengisian ulang dan penimbunan baru mencapai total sekitar 1 miliar barel. Meskipun proses pengisian ini diperkirakan berlangsung bertahun-tahun, volume kebutuhan tersebut diperkirakan akan menjadi faktor penopang bagi harga minyak mentah global.
Peran Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur transit vital yang menghubungkan produsen utama di Timur Tengah dengan pasar di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Setiap hari lebih dari 20% konsumsi minyak dunia lewat di selat ini, termasuk sebagian besar aliran LNG dari beberapa negara di kawasan.
Blokade total selama tiga bulan menegaskan risiko besar bagi negara-negara importir yang mengandalkan pasokan luar tanpa cadangan domestik memadai, sehingga mendorong gelombang penumpukan cadangan strategis di seluruh dunia.
Ikuti Skybee
