— Kirab Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, kembali digelar sebagai wadah penghormatan terhadap warisan budaya. Prosesi malam itu berlangsung hening: ribuan peserta berjalan tanpa alas kaki sambil menunaikan tapa bisu sebagai bentuk perenungan menyambut tahun baru Jawa.

Rute kirab melintasi kawasan Pura Mangkunegaran hingga Jalan Slamet Riyadi, salah satu ruas utama Kota Solo. Prosesi dipimpin Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara X, dengan enam pusaka Mangkunegaran yang sebelumnya menjalani ritual jamasan turut dikirab mengelilingi pura.

Hadir Tokoh Publik Dan Masyarakat

Kegiatan dihadiri tamu undangan, peserta dari masyarakat umum yang mendaftar, serta disaksikan puluhan ribu warga sepanjang rute. Sejumlah tokoh tampak hadir, antara lain Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo; Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha; Wali Kota Solo Respati Ardi; Ragowo Hediprasetyo atau Didit Prabowo bersama Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto.

Selain pejabat, acara juga dihadiri tokoh publik dan pesohor seperti Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul; Aria Bima; Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Redha Manthovani; Yenny Wahid; Christine Hakim; Raline Shah; Prilly Latuconsina; Chef Arnold Poernomo; serta Jolene Marie.

Pengalaman Pribadi Peserta

Salah satu tamu undangan, Fazli Hasniel Sugiharto atau Arniel, pemilik merek minyak herbal Kutus Kutus, menyebut kehadirannya bukan sekadar mengikuti tradisi, melainkan juga momentum memaknai warisan. Ia mengatakan telah beberapa kali datang ke Mangkunegaran, namun kali ini mengikuti prosesi penuh dengan mengenakan beskap hitam, jarit, dan blangkon, serta berjalan tanpa alas kaki.

“Saya mengikuti kirab secara penuh, dan saya bersyukur bisa hadir di Pura Mangkunegaran. Saya melihat sendiri bagaimana tradisi ini dihormati oleh banyak pihak,”

Arniel menggambarkan suasana kirab berlangsung khidmat, dengan ribuan peserta berjalan dalam keheningan dan ketertiban. Ia juga mencatat banyaknya anak muda yang ikut serta, yang menurutnya menunjukkan kelangsungan tradisi di kalangan generasi sekarang.

“Yang saya lihat bukan hanya pelestarian tradisi. Saya melihat bagaimana nilai-nilai budaya dapat tetap hidup dan diterima oleh generasi sekarang tanpa kehilangan maknanya,”

Bagi Arniel, pengalaman itu mengingatkan pentingnya menjaga warisan lintas generasi. Ia mengaitkan makna tersebut dengan perjalanannya mempertahankan Kutus Kutus sebagai produk yang diwariskan dari almarhumah ibunya, Lilies Susanti Handayani.

Ia menegaskan pandangannya bahwa tradisi dan modernitas tidak harus saling bertentangan. Menurut Arniel, nilai-nilai lama dapat tetap relevan jika dijaga konsistensi dan disesuaikan dengan perkembangan zaman.

“Modernitas dan tradisi bukan dua hal yang saling bertentangan. Justru ketika dunia bergerak semakin cepat, banyak orang kembali mencari nilai-nilai yang membantu mereka tetap terhubung dengan diri sendiri, keluarga, dan budaya,”

Warisan Budaya Dan Maknanya

Kirab Malam 1 Suro di Mangkunegaran menjadi pengingat bahwa warisan budaya hidup tidak hanya dalam ritus, tetapi juga dalam cara masyarakat memaknai akar dan identitasnya. Bagi peserta seperti Arniel, prosesi itu memperkuat keyakinan bahwa pelestarian warisan—baik tradisi maupun karya keluarga—memerlukan ketulusan, konsistensi, dan penghormatan terhadap nilai asalnya.