Skybee — Permintaan ruang kerja fleksibel semakin menguat di Asia Pasifik seiring ketidakpastian ekonomi global dan percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI). Fleksibilitas kini dianggap bagian strategi bisnis untuk menjaga efisiensi, kelincahan operasional, dan daya saing perusahaan.
International Workplace Group (IWG) mencatat pertumbuhan permintaan solusi ruang kerja fleksibel mencapai 52% di kawasan Asia Pasifik. Di Indonesia, ekspansi jaringan IWG sudah mencapai 59 pusat di sembilan provinsi dan ditargetkan bertambah menjadi 62 pusat pada akhir 2026.
Perubahan Preferensi Perusahaan
Banyak organisasi mulai meninjau ulang model kantor tradisional yang mengandalkan kontrak jangka panjang dan investasi besar. Alternatif yang dicari adalah solusi yang memungkinkan penyesuaian kapasitas ruang kerja sejalan perkembangan bisnis.
Perusahaan menilai model yang memberikan akses ke lokasi kerja lebih dekat dengan tempat tinggal karyawan atau lokasi yang mendukung produktivitas bisa meningkatkan pengalaman karyawan sekaligus menekan biaya operasional.
Perubahan Preferensi Tenaga Kerja
Perubahan karakter tenaga kerja turut mendorong permintaan ruang fleksibel. Generasi milenial dan Gen Z, misalnya, semakin mengutamakan fleksibilitas dalam menentukan waktu dan tempat bekerja, sehingga kebijakan kerja fleksibel menjadi faktor penting dalam menarik dan mempertahankan talenta.
Perusahaan kini lebih memfokuskan penilaian pada hasil kerja ketimbang kehadiran fisik. Fleksibilitas menjadi salah satu pertimbangan calon karyawan, sejajar dengan kompensasi, peluang pengembangan, dan budaya perusahaan.
“Tidak hanya bagi korporasi besar, kebutuhan akan ruang kerja yang lebih fleksibel juga meningkat di kalangan startup, usaha kecil dan menengah, serta pekerja independen. Banyak profesional yang membutuhkan lingkungan kerja profesional tanpa harus menanggung biaya operasional kantor permanen,” ujar Lars Wittig, Senior Vice President Asia Pacific IWG.
AI Percepat Transformasi Dunia Kerja
Perkembangan AI turut mengubah perencanaan kebutuhan ruang kantor. Ketika struktur organisasi dan kebutuhan tenaga kerja berubah lebih cepat, perusahaan cenderung mengurangi komitmen kontrak properti jangka panjang dan beralih ke model ruang kerja yang lebih luwes.
“Transformasi ini berpotensi menciptakan ekosistem kerja yang lebih dinamis. Dalam model ini, perusahaan tidak selalu harus memiliki seluruh keahlian secara internal, tetapi dapat mengakses talenta yang dibutuhkan sesuai kebutuhan bisnis,” ujar Lars dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (28/6/2026).
Dampak Pada Sektor Properti
Perubahan pola kerja membawa implikasi bagi sektor properti komersial. Pemilik gedung dan pengembang kini menghadapi preferensi penyewa yang menginginkan ruang lebih fleksibel dan efisien, sekaligus melihat peluang untuk meningkatkan tingkat hunian dan pendapatan aset.
Menurut IWG, konsep ruang kerja fleksibel mulai hadir tidak hanya di gedung perkantoran konvensional, tetapi juga di kawasan komersial campuran, pusat perbelanjaan, hingga area transit.
Pandangan Jangka Panjang
IWG menilai fleksibilitas akan menjadi bagian permanen dari masa depan dunia kerja. Fokus saat ini bergeser dari tempat kerja ke bagaimana bisnis membangun ekosistem yang mendukung produktivitas, kolaborasi, dan akses talenta.
“Bagi IWG, fleksibilitas bukan lagi sekadar tren dunia kerja, tetapi telah menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan dalam menghadapi perubahan teknologi, dinamika tenaga kerja, dan ketidakpastian ekonomi,” tutup Lars.
Ikuti Skybee
