Skybee — Dewan Energi Nasional (DEN) memperingatkan bahwa masalah keandalan pasokan listrik berisiko menurunkan daya tarik investasi, khususnya bagi industri digital seperti data center. Pemadaman listrik berulang yang tidak tertangani dengan baik dinilai dapat membuat investor enggan menanamkan modal di Indonesia.
Anggota DEN Satya Widya Yudha menegaskan kebutuhan pasokan listrik yang andal dan berkapasitas besar bagi operasi pusat data, termasuk kestabilan suhu operasional. “Salah satu requirement dari mereka itu adalah keandalan. Data center itu memerlukan daya yang besar. Mereka bisa tidak investasi di Indonesia jika masalah ini tidak di-manajemen,” ujar Satya, Minggu (28/6/2026).
Indikator Keandalan Listrik
Satya menyebut dua indikator utama untuk mengukur keandalan sistem kelistrikan, yakni System Average Interruption Duration Index (SAIDI) yang mencerminkan rata-rata durasi pemadaman dan System Average Interruption Frequency Index (SAIFI) yang menunjukkan rata-rata frekuensi gangguan.
Pada 2025, durasi pemadaman tercatat membaik menjadi rata-rata 0,77 jam per tahun. Namun frekuensi gangguan meningkat dari 6 kali pada 2024 menjadi 7,45 kali pada 2025.
Menurut Satya, perbaikan kedua indikator tersebut penting untuk menjaga daya saing investasi Indonesia dibanding negara tetangga. Selain berdampak pada investasi, pemadaman listrik juga mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Permintaan Transparansi dari PLN
DEN mendorong PT PLN (Persero) untuk memberikan informasi yang lebih transparan mengenai durasi dan frekuensi pemadaman agar pelaku usaha dapat menyiapkan langkah antisipasi. “Misalkan blackout-nya 15 menit, bagi mereka yang berusaha di restoran, di UMKM, dia bisa membayangkan sampai sejauh mana harus menyiapkan (kontingensi),” kata Satya.
Ia menambahkan bahwa sektor seperti restoran, kedai makanan, penginapan, dan perhotelan sangat bergantung pada pasokan listrik stabil, sehingga pemadaman tanpa kepastian jadwal berpotensi menurunkan kualitas layanan dan merugikan pelaku usaha.
Percepatan Energi Baru Dan Terbarukan
Satya juga mengingatkan ketergantungan Indonesia pada energi fosil seperti batu bara dan gas dapat meningkatkan risiko terhadap ketahanan energi seiring menurunnya cadangan energi primer di masa mendatang. Sebagai respons, DEN mendorong percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir, sebagai bagian dari strategi menjaga keandalan pasokan listrik jangka panjang.
Selain itu, Satya menyebut potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW), dengan pemanfaatan saat ini baru sekitar 3 GW. Optimalisasi sumber energi domestik tersebut dinilai penting untuk memperkuat kemandirian energi dan menjamin keberlanjutan pasokan listrik nasional.
Ikuti Skybee
