— Riset Henan Putihrai Sekuritas mencatat sejak 2000 pasar saham Indonesia telah mengalami delapan siklus koreksi besar. Per 15 Juni 2026, siklus kedelapan tercatat menekan IHSG sebesar 41,72% dari puncaknya, menjadikannya koreksi ketiga terdalam dalam sejarah modern pasar modal Indonesia.

Menurut riset itu, tujuh siklus sebelumnya berakhir dengan pola serupa: indeks kembali menembus puncak lama dan membentuk puncak baru. Untuk membantu membaca dinamika pasar, Henan Putihrai membagi setiap siklus koreksi menjadi empat fase yang konsisten muncul dalam tujuh siklus terdahulu.

Empat Fase Siklus Koreksi

Kerangka empat fase yang diidentifikasi adalah: Descend (Peak → Trough), Trough (Basing & +10% Bounce), Normalization (50% Retrace), dan Recovery (Full Peak). Setiap fase memiliki karakter teknis dan emosional berbeda yang memengaruhi keputusan investasi.

Henan menyatakan, “Masing-masing fase memiliki karakter teknis dan karakter emosional yang berbeda, dan memahami keduanya sama pentingnya karena sebagian besar keputusan investasi yang buruk lahir bukan dari kekurangan data, melainkan dari kekurangan konteks tentang di mana kita berada.”

Karakter Tiap Fase

Fase Descend adalah periode penurunan dari puncak menuju trough, ditandai tekanan jual konsisten dan pantulan sementara yang sering menipu investor. Rata-rata durasi fase ini dari tujuh siklus sebelumnya adalah 5,0 bulan, median 5,2 bulan.

Fase Trough adalah konsolidasi di dasar pasar; fase ini baru dianggap tercapai bila IHSG menguat minimal 10% dari titik penutupan terendahnya. Secara historis fase ini berlangsung sangat singkat: median durasi 0,3 bulan.

Fase Normalization mencakup pemulihan parsial sampai IHSG menutup 50% dari jarak trough ke peak sebelumnya. Ini sering terlewat karena ketakutan masih tersisa meski harga sudah naik. Rata-rata durasinya 3,2 bulan, median 3,9 bulan.

Fase Recovery adalah lanjutan penguatan sampai IHSG kembali ke puncak sebelumnya; rata-rata durasinya 7,5 bulan. Kecepatan pemulihan bergantung pada apakah penyebab koreksi bersifat eksternal atau struktural domestik.

Siklus 8: Data dan Keunikan

Berdasarkan data per 15 Juni 2026, Siklus 8 mencapai puncak pada 20 Januari 2026 (level 9.134,70) lalu menjalani fase Descend selama 4,6 bulan dengan drawdown maksimum 41,72%. IHSG mencapai trough pada 8 Juni 2026 di level 5.324,14, lalu memantul +10,9% ke 5.902,38 dalam dua hari perdagangan—durasi Trough ini tercatat sangat singkat dan menyamai rekor pada GFC 2008 dan COVID-19 2020.

Siklus 8 juga memiliki satu keunikan: Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin di tengah koreksi dengan tujuan menjaga stabilitas rupiah, bukan menstimulasi pertumbuhan. Hal ini menjadikan katalis akhir fase Descend berbeda dari siklus sebelumnya; habisnya tekanan jual setelah net foreign sell mencapai rekor historis menjadi pemicu utama.

Apa Selanjutnya dan Sinyal Penting

Dengan Descend selesai dan trough terkonfirmasi, fokus beralih pada apakah Siklus 8 telah memasuki Normalization atau masih berkonsolidasi. Target teknis untuk Normalization adalah retracement 50% pada level 7.229,42—dari level pembukaan IHSG 15 Juni 2026 di 6.118,72 diperlukan kenaikan sekitar 18,2% untuk mencapai target ini.

Henan Putihrai menyoroti tiga sinyal yang perlu diperhatikan untuk menentukan arah selanjutnya: keputusan MSCI (pengumuman dijadwalkan 18 Juni), stabilisasi rupiah menuju kisaran Rp15.000–16.000, dan arah BI Rate menuju pemangkasan. Urutan ketiga sinyal ini dinilai mencerminkan realitas struktural yang membedakan Siklus 8 dari siklus sebelumnya.

Henan menegaskan bahwa pemulihan pada Siklus 8 kemungkinan harus didorong oleh faktor selain penurunan suku bunga, karena memangkas suku bunga berisiko melemahkan rupiah. Alternatifnya adalah pelemahan dolar AS atau resolusi struktural domestik yang menarik modal asing kembali tanpa insentif suku bunga. Pengumuman MSCI disebut sebagai faktor paling konkret dari opsi pemulihan struktural.

Implikasi Untuk Investor

Henan merekomendasikan pendekatan yang mempertimbangkan ketidakpastian saat ini, misalnya strategi barbell: sebagian portofolio dialokasikan ke instrumen aman dan stabil, sebagian lagi disiapkan untuk menangkap pemulihan ketika arah lebih jelas. Penilaiannya juga menekankan pentingnya memantau rupiah karena keputusan investor asing sering dibuat dalam denominasi dolar.

“Tentukan jangka waktu investasi Anda dan tentunya sejalan dengan profil risiko: Ini adalah siklus di mana jangka waktu sangat menentukan bagaimana Anda seharusnya memposisikan diri,” ujar Henan. Investor jangka pendek tiga–enam bulan menghadapi ketidakpastian penuh terkait keputusan MSCI, sementara investor dengan pandangan dua tahun ke atas memiliki ruang lebih untuk melewati berbagai skenario.

Henan menutup dengan pengingat bahwa tidak ada satu langkah yang cocok untuk semua investor; keputusan investasi harus disesuaikan dengan komposisi portofolio, profil risiko, rencana investasi, dan kondisi profit/loss masing-masing.