Skybee — PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melakukan transformasi strategis yang mulai menampakkan hasil signifikan. Perusahaan bergerak dari ketergantungan pada satu aset cracker menjadi platform bisnis terpadu yang mencakup energi, kimia, dan infrastruktur.
Strategi diversifikasi ini mendorong peningkatan pendapatan dan memperbaiki struktur neraca perseroan, seiring penyelesaian beberapa akuisisi dan proyek baru yang menambah lini bisnis serta kapasitas produksi.
Perubahan Skala Bisnis
Sebelumnya bergantung pada satu fasilitas cracker senilai US$ 1,8 miliar dengan margin negatif pada 2022–2024, Chandra Asri kini memiliki platform bisnis dengan pendapatan diperkirakan US$ 7–10 miliar. Perseroan juga menambah sumber pendapatan dari bisnis ritel serta pabrik CA-EDC.
Akuisisi Aster dan Dampaknya
Penyelesaian akuisisi aset Shell Singapore melalui entitas Aster pada 2025 mencakup kilang minyak berkapasitas 237 ribu barel per hari dan fasilitas cracker berkapasitas 1,1 juta ton per tahun. Langkah ini menggeser ketergantungan perseroan dari bisnis petrokimia murni.
Hasilnya, segmen energi menjadi kontributor pendapatan terbesar pada kuartal I-2026 dengan porsi 55%.
“Langkah ini mengurangi ketergantungan TPIA terhadap bisnis petrokimia yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan margin akibat kelebihan kapasitas produksi di China. Saat ini, segmen energi telah menjadi kontributor pendapatan terbesar bagi TPIA dengan porsi 55% terhadap pendapatan kuartal I-2026,”
Kutipan di atas disampaikan oleh analis Michael Wildon Ng dan Nizam Syafik dalam riset mereka.
Integrasi Ritel dan Proyek CA-EDC
TPIA juga menyelesaikan akuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso, menciptakan integrasi dari pengilangan hingga distribusi ritel. Integrasi ini diharapkan menghasilkan sinergi sepanjang value chain.
Proyek CA-EDC senilai US$ 800 juta, dikembangkan bersama Danantara Indonesia dan Indonesia Investment Authority, akan memproduksi soda kaustik 400 ribu ton per tahun dan 500 ribu ton EDC per tahun di Cilegon. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Kinerja Keuangan dan Margin Pengilangan
Integrasi Aster turut mengangkat hasil operasional. TPIA mencatatkan EBIT konsolidasian tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$ 468 juta dan laba bersih US$ 205 juta pada kuartal I-2026.
“Kami memperkirakan tren margin pengilangan acuan Singapura akan tetap kuat,”
Menurut Michael dan Nizam, crack spread diperkirakan bertahan di atas US$ 10 per barel, dibandingkan level di bawah US$ 5 per barel sebelum konflik dan puncak sekitar US$ 30 per barel selama periode konflik di Timur Tengah.
Gangguan pasokan yang berkaitan dengan Iran dipandang akan mendukung keberlanjutan margin, sehingga investasi pada Aster berpotensi mempercepat pengembalian modal dan memperbaiki struktur utang TPIA.
Keuntungan Akuntansi dan Struktur Kepemilikan
Akuisisi Aster yang bernilai US$ 255 juta dicatat pada valuasi menarik, menghasilkan keuntungan nilai aset sebesar US$ 1,7 miliar dan laba operasional segmen energi (EBIT) US$ 556 juta pada kuartal I-2026. Keuntungan satu kali ini memperkuat neraca dan membuka ruang pendanaan utang sambil mempertahankan rasio utang terhadap ekuitas maksimum 1 kali sesuai ketentuan pembiayaan.
Di pasar modal, saham TPIA diperdagangkan pada estimasi PER 2026 sekitar 15,1 kali, sejalan dengan rata-rata proyeksi PER 2026 perusahaan sejenis di sektor petrokimia dan kilang global sebesar 15–16 kali, menurut analis yang sama.
Peningkatan Free Float Tanpa Mengubah Pengendalian
TPIA meningkatkan porsi saham publik (free float) dari sekitar 10% menjadi 25,7%, melampaui ketentuan minimum 15% pasar modal. Perubahan ini terjadi seiring SCG Chemicals menyesuaikan kepemilikan sebagai bagian dari strategi deleverage, namun SCG masih mempertahankan kepemilikan sekitar 15,71%.
Secara keseluruhan, tiga pemegang saham utama—Barito Pacific, SCGC, dan Thai Oil—masih menguasai sekitar 74,3% saham TPIA. Perubahan struktur kepemilikan tidak mengubah tata kelola, manajemen, maupun arah strategis perusahaan yang tetap fokus pada pertumbuhan di sektor energi, kimia, dan infrastruktur di Indonesia dan Asia Tenggara.
Ikuti Skybee
