— Lenovo Group mengajukan rencana penerbitan obligasi konversi senilai US$2 miliar (sekitar Rp35,7 triliun). Surat utang ini akan berjangka tujuh tahun dan menandai kembalinya perusahaan ke pasar obligasi setelah absen selama empat tahun.

Dalam dokumen yang diajukan ke Bursa Efek Hong Kong, obligasi tersebut tidak memberikan kupon bunga reguler dan menawarkan opsi bagi pemegangnya untuk menukarkan obligasi menjadi saham Lenovo pada harga konversi HK$36,70 per lembar. Harga konversi itu disebut mencerminkan premium 47,5% dari harga penutupan saham pada 17 Juni 2026.

Trio Tujuan Penggunaan Dana

Perusahaan menyatakan dana hasil penerbitan obligasi akan dialokasikan untuk tiga tujuan utama.

  • Refinancing Utang: Melakukan pembelian kembali sebagian obligasi konversi lama senilai US$225 juta.
  • Pembelian Kembali Saham: Buyback saham di pasar terbuka untuk mengurangi efek dilusi jika obligasi baru dikonversi menjadi saham.
  • Keperluan Korporat Umum: Mendukung kebutuhan operasional dan ekspansi usaha.

Posisi Penerbitan Di Tengah Tren Pasar

Penerbitan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya aktivitas pendanaan di kalangan perusahaan teknologi global. Beberapa emiten besar juga meluncurkan penawaran obligasi atau obligasi konversi pada periode yang sama.

Lenovo menyebut ini sebagai aksi korporasi besar pertama mereka di pasar obligasi sejak Agustus 2022.

Catatan Tentang Instrumen

Obligasi konversi merupakan instrumen utang yang memberi hak bagi pemegangnya untuk menukar kepemilikan utang menjadi saham perusahaan pada masa mendatang.

Lenovo mengatakan langkah penerbitan obligasi ini bagian dari strategi untuk menjaga struktur modal dan arus kas perusahaan seiring persaingan di industri perangkat keras dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan.