Skybee — PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) menyiapkan serangkaian proyek pembangkit listrik tenaga air yang membutuhkan pendanaan besar untuk mendorong pertumbuhan produksi dan pendapatan. Perusahaan mendapat dukungan dari Grup Astra serta akumulasi saham oleh pengusaha Happy Hapsoro.
Manajemen ARKO menargetkan produksi listrik tumbuh sekitar 30% per tahun pada 2026–2027, seiring beberapa proyek yang mulai atau akan beroperasi dalam beberapa tahun mendatang.
Arkora Hydro adalah produsen listrik swasta tenaga air aliran sungai yang menjual seluruh listriknya ke PLN lewat kontrak jangka panjang hingga 30 tahun, dengan kapasitas terkontrak saat ini sebesar 62,8 MW. Dari jumlah itu, 32,8 MW sudah beroperasi di empat lokasi.
Perusahaan memproyeksikan produksi mencapai 197 GWh pada 2026 dan 257 GWh pada 2027. Target ini didukung oleh komersialisasi PLTA Kukusan 2 (5,4 MW) pada Februari 2026 dan PLTA Tomoni (10 MW) yang progres konstruksinya telah mencapai 73% dan juga dijadwalkan beroperasi tahun ini.
ARKO juga tengah menyelesaikan konstruksi PLTA Pongbembe (20 MW), yang dimulai akhir 2025 dengan target operasi komersial pada 2029.
Pipeline Proyek Dan Opsi Pendanaan
Perusahaan memiliki pipeline proyek dengan total kapasitas lebih dari 300 MW. Jika dihitung, angka tersebut setara sekitar 2,5% dari target penambahan PLTA/PLTM dalam RUPTL PLN periode 2025–2034 yang mencapai 11,7 GW.
Manajemen menyatakan keekonomian proyek menarik, dengan IRR diperkirakan 12–13% dan berpotensi mencapai 18–19% dengan dukungan pembiayaan bank. Perkiraan capex sekitar US$2 juta per MW.
Dengan asumsi capex US$2 juta/MW, ARKO membutuhkan dana sekitar US$600 juta atau setara Rp10,8 triliun untuk menggarap seluruh pipeline tersebut—nilai jauh di atas ekuitas perseroan saat ini sebesar Rp533 miliar.
“Untuk pendanaan ekspansi jangka panjang, manajemen ARKO tengah mengeksplorasi berbagai opsi pembiayaan, termasuk pinjaman bank, obligasi, hingga rights issue,” kata Theodorus Melvin, analis investasi Stockbit Group, dalam laporannya.
Perusahaan mewaspadai potensi penurunan produksi saat musim kemarau, terutama jika El Nino terjadi pada paruh kedua 2026. Namun, manajemen menyatakan proyeksi produksi telah mempertimbangkan studi hidrologi jangka panjang sebagai mitigasi volatilitas cuaca.
Dukungan Investor Dan Valuasi ARKO
Arkora Hydro dikendalikan oleh kelompok pendiri melalui PT Arkora Bakti Indonesia yang menguasai 38,89% saham, dengan Aldo Artoko sebagai ultimate beneficial owner. Grup Astra memberikan dukungan pendanaan, aspek legal, dan tata kelola melalui anak perusahaan terkait.
Kelompok terafiliasi Hapsoro mengakumulasi sekitar 6,9% saham ARKO melalui PT Tirta Orisa Yasa dan PT Sentosa Bersama Mitra. Kepemilikan langsung Happy Hapsoro tercatat sebesar 2,04%. Manajemen menyambut masuknya investor tersebut sebagai bentuk kepercayaan terhadap prospek perusahaan.
Saham ARKO diperdagangkan dengan valuasi yang relatif tinggi: rasio P/E sekitar 312 kali dan P/BV 35 kali. Menurut analisis, valuasi premium tersebut merefleksikan ekspektasi pertumbuhan serta dukungan konglomerat.
“Kami menilai bahwa valuasi premium ARKO lebih banyak mencerminkan ekspektasi pertumbuhan dan faktor konglomerat, sehingga kemampuan ARKO untuk mengeksekusi pipeline—terutama proyek besar berkapasitas 100–200 MW—menjadi faktor penentu utama terhadap arah valuasinya ke depan,” tutup Melvin.
Dalam empat tahun terakhir (2021–2025), produksi listrik ARKO tumbuh dengan CAGR 12,2%, pendapatan tumbuh 14,7% CAGR, dan laba bersih tumbuh sekitar 6,9% CAGR.
Ikuti Skybee
