Skybee — Tim nasional sepak bola Iran meninggalkan Amerika Utara pada Selasa waktu setempat setelah langkah mereka di Piala Dunia terhenti di fase grup. Penampilan Team Melli selama turnamen diwarnai drama di dalam dan luar lapangan, mulai dari ketegangan politik hingga aksi-aksi yang mengundang decak kagum.
Meski gagal melaju ke babak gugur, para penggemar dan staf menyambut kepulangan tim dengan dukungan emosional. Sejumlah pendukung bahkan melakukan perjalanan jauh untuk menyaksikan keberangkatan skuad itu dari Tijuana.
Patah Hati Di Detik-Detik Akhir
Nasib Iran ditentukan dari hasil pertandingan lain setelah mereka mengumpulkan tiga hasil imbang di fase grup. Skuad menyimak perkembangan laga antara Aljazair dan Austria dari lobi hotel di Tijuana dan sempat bersorak ketika Aljazair mencetak gol pada masa injury time.
Kegembiraan itu sirna beberapa menit kemudian setelah Austria menyamakan kedudukan. Suasana berubah hening dan kekecewaan terpancar jelas dari para pemain dan suporter.
Dijegal Masalah Non-Teknis Dan Politik
Perjalanan Iran ke turnamen ini terganggu oleh sejumlah isu di luar lapangan. Permintaan untuk memindahkan seluruh laga ke Meksiko ditolak, lokasi pemusatan latihan berubah dari Arizona, dan beberapa staf penting Timnas menghadapi penolakan visa oleh pemerintah AS. AS juga melarang tim Iran masuk ke wilayahnya dua hari sebelum laga di Los Angeles, meski pada akhirnya pelonggaran diberlakukan untuk laga terakhir.
Sekretaris Keamanan Dalam Negeri AS, Markwayne Mullin, menyatakan bahwa AS sudah memberikan banyak dispensasi dan menyebut bahwa beberapa orang dalam daftar rombongan Iran terindikasi terafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). “Saya hanya merasa lega karena mereka sudah selesai dan tidak akan kembali ke sini,” ujar Mullin, yang juga berseloroh ingin menari bahagia atas tersingkirnya Iran.
Menanggapi pernyataan tersebut, Timnas Iran merilis pernyataan resmi menilai komentar Mullin menunjukkan sikap kekanak-kanakan dan tidak menghormati hukum internasional sebagai tuan rumah turnamen global.
Suara Perdamaian Di Tengah Tekanan
Di tengah tekanan politik, para pemain Iran menggunakan panggung internasional untuk menyuarakan pesan kemanusiaan. Saat tiba di Meksiko, skuad mengenakan pin bernomor “168”, merujuk pada jumlah korban tewas akibat serangan rudal di sebuah sekolah dasar di Minab.
Sebelum meninggalkan ruang ganti di Stadion Los Angeles, pemain meninggalkan pesan yang menyerukan perdamaian antarbangsa, lengkap dengan tagar #168 dan #minab. “Sikap mereka membela para korban muda itu sangat terhormat,” kata salah satu warga keturunan Iran di Los Angeles.
Ikatan Emosional Di Tijuana
Di lapangan, beberapa momen tetap dikenang, termasuk ketangguhan kiper Alireza Beiranvand yang melakukan tujuh penyelamatan penting saat menahan imbang Belgia dan gol voli Ramin Rezaeian ke gawang Selandia Baru. Di luar lapangan, hubungan hangat terjalin dengan warga lokal Meksiko; yel-yel “Irán, hermano, ya eres Mexicano!” kerap menggema di sekitar hotel.
Pelatih kepala Amir Ghalenoei menyatakan secara emosional bahwa meski hari ini mereka meninggalkan Tijuana, hati dan jiwa tim tetap berada di sana.
Pandangan Ke Depan
Para pendukung mencoba menata harapan meski kecewa. Seorang suporter mengatakan turnamen ini penuh kesialan bagi warga Iran, namun ia berniat kembali mendukung tim pada kompetisi berikutnya. Bagi Team Melli, beban yang dipikul tak hanya berkaitan taktik di lapangan, melainkan juga dinamika politik dan polarisasi di kalangan diaspora.
Ikuti Skybee
